logo

Kampus

Begini Keluhan Mahasiswa soal Penyelenggaraan Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka

Begini Keluhan Mahasiswa soal Penyelenggaraan Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka
Begini Keluhan Mahasiswa soal Penyelenggaraan Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (Unisri)
Redaksi, Kampus18 Januari, 2022 15:35 WIB

Eduwara.com, SOLO— Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbusristek) masih memiliki pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam pelaksanaan Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PPMM) sebagai bagian dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Salah satunya adalah informasi dan komunikasi dengan para mahasiswa yang ikut program.

Universitas Slamet Riyadi (Unisri) salah satu perguruan tinggi yang menyambut baik Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PPMM) pemerintah tersebut. Program yang digagas oleh Kementerian Pendidikan,Kebudayaan,Riset, dan Teknologi (Kemenristek Dikti) sudah mulai berjalan sejak semester ganjil tahun ajaran 2021/2022. 

Dosen Ilmu Komunikasi Unisri Andri Astuti Itasari mengungkapkan Unisri menjadi perguruan tinggi penerima program PPM. Sebanyak 25 mahasiswa dari beberapa universitas di Indonesia mengirim mahasiswa selama dua bulan untuk belajar di Unisri.

"PPMM di Unisri dibagi dua kelas, satu kelas berjumlah 12, satu kelas lain berjumlah 13. Mereka melakukan kegiatan seperti pengabdian masyarakat. Selain itu juga belajar banyak kesenian tradisional Jawa, lebih khusus Solo," kata Andri

Salah satu peserta PPMM Unisri dari Universitas Sumatera Utara Alifa Sibarani menuturkan secara umum program berjalan baik, tetapi masih ada beberapa catatan yang perlu dibenahi oleh Kemendikbud Ristek selaku penyelenggara.

"Pada awal-awal program ini, ada sedikit konflik antara kementerian penyelenggara dengan peserta PPMM. Tapi itu bisa dimaklumi karena ini masih program pertama," ujar Alifa kepada Eduwara.com di kampus Unisri, Senin (17/1/2022).

Diungkapkan Alifa, hal-hal administrarif harus benar-benar diperhatikan oleh penyelenggara. Keterlambatan pencarian uang akomodasi juga menjadi kendala.

"Hal yang menyangkut uang ini kan sangat sensitif. Kami para mahasiswa di sini pasti membutuhkan uang kebutuhan sehari-hari," papar dia.

Senada dengan itu, peserta PPMM dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Nazarullah mengatakan beberapa biaya terkadang cairnya terlambat. Bahkan ada di kampus lain, uang saku saja belum diberikan kepada mahasiswa.

" Memang ada beberapa Keterlambatan-keterlambatan pencairan biaya, tapi wajar karena angkatan pertama, mungkin masih uji coba," ujar dia.

Alifa melanjutkan, cara komunikasi penyelenggara kepada mahasiswa peserta PPMM harus diperbaiki. Jangan sampai ada informasi yang tidak jelas, simpang siur. Sehingga membuar mahasiswa menjadi bingung.

"Akibatnya, seperti yang pernah terjadi, para mahasiswa membuat petisi penandatanganan yang ditujukan kepada Kemendikbud Ristek soal program ini. Mereka harus lebih responsif karena program tersebut merupakan program skala besar, melibatkan mahasiswa di berbagai universitas di Indonesia" ucap mahasiswa Ilmu Hukum semester 6 itu.

Bahkan, tambah dia, karena buruknya sistem komunikasi penyelenggara, banyak mahasiswa yang ingin mengundurkan diri dari program tersebut. Mereka merasa tidak diberi kejelasan.

Sementara itu, menurut Alifa, sejauh ini Unisri sebagai perguruan tinggi penerima PPMM telah memperlakukan peserta PPMM dengan sangat baik. Pihak Unisri responsif kepada mereka jika ada kendala.

"Unisri bertindak cepat jika ada keluhan dari mahasiswa. Pun ketika ada masalah, Unisri segera melakukan musyawarah untuk segera menyelesaikan masalahnya," jelas Alifa. (M. Diky Praditia)

Read Next