logo

EduBocil

Ini Strategi Pemerintah Pacu Keterlibatan Guru PAUD untuk Menekan Angka Stunting

Ini Strategi Pemerintah Pacu Keterlibatan Guru PAUD untuk Menekan Angka Stunting
Direktur Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan PAUD Kemendikbudristek Santi Ambarukmi dalam webinar yang digelar Kemendikbudristek dengan tema “Diklat Teknis Perkembangan Otak Anak dan Diklat Teknis Percepatan Penurunan Stunting”, Rabu (22/12/2021). (Eduwara/Bhakti)
Bhakti Hariani, EduBocil22 Desember, 2021 16:01 WIB

Eduwara.com, JAKARTA – Indonesia membutuhkan tenaga guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang terlatih pengasuhan stimulasi penanganan stunting, sejalan dengan upaya mencapai Sustainable Development Goals (SDGS) .

Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Sekretariat Wakil Presiden Suprayoga Hadi memaparkan, PAUD memiliki peran penting untuk penanganan stunting

“Perkembangan otak sebagian besar terjadi pada usia 0-2 tahun. Perlu stimulasi agar perkembangan otak anak menjadi optimal,” kata Suprayoga dalam webinar yang digelar Kemendikbudristek dengan tema “Diklat Teknis Perkembangan Otak Anak dan Diklat Teknis Percepatan Penurunan Stunting”, Rabu (22/12/2021).

Lebih lanjut diungkap Yoga, berdasarkan data Kantor Sekretariat Wakil Presiden, angka stunting jika didasarkan pada usia, bayi yang lahir memiliki panjang badan kurang dari 48 centimeter adalah sebesar 22,7 persen. 

Adapun, angka stunting pada baduta atau bayi dibawah dua tahun adalah 29,2 persen dan pada balita atau bayi dibawah lima tahun sebesar 30,8 persen.

“Prevalensi stunting bertambah seiring dengan usia. Oleh karena itu perlu edukasi tentang pentingnya asupan gizi, pola asuh dan sanitasi yang baik. Fase 1.000 hari pertama kehidupan merupakan periode kritis yang dapat mempengaruhi kualitas hidup,” papar Yoga.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 72/ 2021, Pemerintah menargetkan 514 kabupaten/kota masing-masing memiliki minimal 20 orang guru PAUD yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan pengasuhan stimulasi penanganan stunting. Saat ini, realisasinya baru 294 kabupaten/kota yang memenuhi kriteria itu.

“Ini menjadi perhatian kami dan ini harus segera dikebut. Terlebih permasalahan stunting ini juga menjadi target dalam Sustainable Development Goals (SDGS). Tidak ada lagi kelaparan. Kita kebut di 1.000 Hari Pertama Kehidupan,” ujar Yoga.

Kedepannya, dikatakan Yoga, beberapa upaya yang akan dilakukan diantaranya pembuatan modul PAUD kelas pengasuhan generik terkait stunting yang dikoordinasikan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam proses persiapan, melakukan sosialsasi panduan penyelenggaraan dan pelatihan guru PAUD yang terlatih stimulasi/ sensitive gizi yang diterbitkan oleh Kemendikbudristek ke dinas pendidikan di kabupaten/ kota.

Kemdikbudristek Buat Diklat

Sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 72/ 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, Kemendikbudristek pun menyiapkan materi tentang percepatan penurunan stunting yang melibatkan para guru PAUD. 

Direktur Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan PAUD Kemendikbudristek Santi Ambarukmi menuturkan, dibutuhkan guru yang berkualitas untuk menyiapkan generasi penerus yang tangguh. 

“Nanti kami akan membuat diklat tentang teknis perkembangan otak anak dan diklat penurunan stunting. Para guru PAUD bisa mengikuti ini melalui Program Guru Belajar dan Berbagi. Materi tentang gizi, kesehatan dan pengasuhan anak usia dini juga akan ada dalam diklat ini. Diklat akan berlangsung selama 14 hari,” ujar Santi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbudristek Iwan Syahril mengungkapkan, PAUD memegang peran penting karena masa-masa PAUD berada pada usia emas anak. 

“Semua dibentuk disini termasuk perkembangan otak anak. Kecukupan gizi anak juga harus terpenuhi. Otak anak harus distimulasi sejak dini. Nantinya program diklat ini bisa diikuti oleh para guru PAUD. Diikuti secara kontinyu dan menyeluruh selama 14 hari,” ujar Iwan. 

 

Read Next