logo

Kampus

Kemerdekaan Perempuan, Standar Kecantikan, dan Pelestarian Alam

Kemerdekaan Perempuan, Standar Kecantikan, dan Pelestarian Alam
Dosen Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjajaran Antik Bintari dalam webinar dalam rangka Hari Kartini, Hari Bumi, Hari Tari Sedunia bertajul “Gerak Perempuan untuk Kehidupan yang Lestari: Sebuah Pendekatan Ekofeminisme”, Minggu (24/4/2022) yang digelar oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat (Eduwara/Bhakti)
Bhakti Hariani, Kampus25 April, 2022 14:59 WIB

Eduwara.com, JAKARTA – Standar kecantikan yang selama ini selalu diagungkan oleh industri kecantikan yakni harus memiliki kulit putih, langsing/ kurus, wajah mulus, tinggi semampai, rambut hitam panjang, nyata menimbulkan rasa tidak percaya diri dalam diri perempuan. 

Hal ini diungkap oleh Dosen Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjajaran Antik Bintari dalam webinar dalam rangka Hari Kartini, Hari Bumi, Hari Tari Sedunia bertajuk “Gerak Perempuan untuk Kehidupan yang Lestari: Sebuah Pendekatan Ekofeminisme”, Minggu (24/4/2022) yang digelar oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. 

Padahal, lanjut Antik, feminism postmodern menganggap bahwa perempuan itu beragam, bagaimanapun perbedaan diantara perempuan, tetap saja perempuan itu ada sebagai perempuan. 

“Sebagaimana manusia, perempuan memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya dan perbedaan itu dianggap sebagai keberagaman yang harus dihargai. Perempuan tidak harus dipaksa menerima konsep kesamaan sehingga perempuan yang dianggap berbeda atau tidak sesuai dengan tatanan simbolik seolah-olah dianggap bukan perempuan yang seutuhnya,” papar Antik.

Terlebih hadirnya media sosial yang makin memicu tingkat ketidakpercayaan diri para perempuan. Antik mengatakan, seringkali saat melihat aneka ragam unggahan para perempuan lain yang lebih bersinar dan cantik seperti misalnya para selebgram di Instagram, para perempuan menjadi merasa tidak menarik dan merasa tidak sama dengan mereka.

“Ini memunculkan rasa rendah diri. Seolah ada kelas yang lebih ditanggapi karena fisiknya. Jika tidak cantik maka tidak memiliki akses lebih. Padahal perempuan itu beragam. Perempuan adalah makhluk. Punya keindahan yang sama dengan laki-laki tanpa harus dibeda-bedakan,” tutur Antik.

Ditegaskan Antik, penindasan dan diskriminasi harus dihilangkan. Perempuan harus punya independensi dan memahami potensi dirinya. 

Jaga Alam

Independensi kaum perempuan juga terwujud nyata dalam pergerakan yang dilakukan oleh suku adat Molo di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka melakukan perjuangan untuk melestarikan alam di desa Molo.

Dosen Filsafat Universitas Indonesia Saras Dewi menuturkan, kaum wanita di desa itu melakukan pergerakan untuk menjaga alam mereka agar tetap lestari dan tidak rusak. Gerakan yang dipelopori oleh Mama Aleta ini memperjuangkan lingkungan hidup di NTT dengan mempertahankan gunung yang disakralkan oleh suku adat Molo. 

“Dia menyatukan 24 desa untuk menjaga alam Molo. Para perempuan ini melakukan advokasi melawan pertambangan marmer dengan menenun dan menduduki pintu tambang selama satu tahun,” papar Saras.

Selama menenun, para wanita ini mencurahkan keresahan mereka melalui karya tenun yang mereka untai selaras dengan alam. Aneka motif yang mereka tenun, kata Saras, mencerminkan lukisan alam di Desa Molo, NTT.

Diungkap Saras, kedekatan perempuan dengan bumi seperti halnya tubuh yang saling tersambung. Inilah mengapa peran masyarakat adat dalam melestarikan lingkungan sangatlah penting. 

Masyarakat adat adalah kelompok rentan namun juga menjadi penyelamat dalam kondisi krisis iklim. Masyarakat adat, lanjut Saras, saat ini berjumlah kurang dari setengah miliar orang di seluruh dunia, mengelola tanah bagi 80 persen keanekaragaman hayati bumi yang tersisa. Mereka memegang peranan penting dalam melestarikan alam. 

“Harus disadari bahwa dalam laporan panel lintas pemerintah mengenai perubahan iklim, demi mencegah terjadinya kerusakan alam dan iklim maka suhu bumi perlu dijaga agar tidak meningkat melampaui 1,5 derajat celcius,” tutur Saras.

Read Next