logo

Sekolah Kita

Tingkatkan Kemampuan Belajar Siswa, SD Muhammadiyah1 Ketelan Solo Selenggarakan Workshop Pembelajaran Berdeferensiasi

Tingkatkan Kemampuan Belajar Siswa,  SD Muhammadiyah1 Ketelan Solo  Selenggarakan Workshop Pembelajaran Berdeferensiasi
Kepala Sekolah SD Muh 1 Solo Sri Sayekti memberikan sambutan dalam Workshop Pembelajaran Berdefernsiasi dan Penyusunan Perangkat Ajar. (EDUWARA/M. Diky Praditia)
M. Diky Praditia, Sekolah Kita28 Maret, 2022 19:45 WIB

Eduwara.com, SOLO – Pemetaan pembelajaran berdeferensiasi perlu dilakukan oleh sekolah. Guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih dan mengolah pembelajaran sesuai dengan minat dan bakat. Hal itu bertujuan agar kemampuan belajar siswa meningkat sesuai dengan potensi dimiliki. 

Materi tentang teknik pemetaan pembelajaran berferensiasi ini menjadi topik pembahasan dalam workshop Pembelajaran Berdiferensiasi dan Penyusunan Perangkat Ajar, yang diselenggarakan SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo, di Hotel Indah Palace Tawangmangu, Jumat-Sabtu (25-26/3/2022). 

Diikuti seluruh guru dan karyawan SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo, workshop menghadirkan narasumber Enung Sumarni dari Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Matematika Yogyakarta, Ketua Dikdasmen PDM Solo Tridjono, dan Pengawas TK/SD Gugus II Korwil III Kecamatan Banjarsari Tri Winarni.

Enung Sumarni mengatakan pemetaan kebutuhan peserta didik di sekolah terlebih dahulu dilakukan dengan mengidentifikasi minimal satu strategi diferensiasi konten, proses, atau produk. Kemudian membuat perencanaan pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan pemetaan kebutuhan yang telah dibuat sebelum aktivitas. 

“Sekolah perlu melakukan demontrasi kontekstual, penyesuaian pembelajaran sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Hal itu agar pembelajaran dapat diterima oleh peserta didik dengan baik,” papar Enung.

Selain itu, lanjut Enung, pemetaan peserta didik juga dapat dilakukan berdasarkan minat. Hal ini misalnya sebagian peserta didik senang dengan pembelajaran matematik, sebagian peserta didik senang belajar dengan metode menggambar dan sebagian peserta didik sedang belajar tenang lingkungan dan sains.

“Pemetaan peserta didik berdasarkan gaya belajar. Peserta didik senang mendengarkan podcast. Peserta didik senang dengan buku bergambar. Peserta didik senang melakukan kegiatan lapangan,” katanya.

Siswa Sebagai Pusat

Menurut Enung, semua guru harus sadar bahwa peserta didik akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya. 

Lalu, jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang peserta didik (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai, maka kegiatan pembelajaran akan lebih efektif. Hal ini sesuai dengan paradigma baru Sekolah Penggerak, siswa yang menjadi pusatnya.

“Perlu juga pemetaan peserta didik berdasarkan kesiapan belajar. Contoh, sebagian peserta didik sudah mampu mengenal angka digit 1 dan melakukan operasi perhitungan tambah kurang. Sebagian peserta didik sudah mampu mengenal angkat digit 2 dan melakukan operasi perhitungan tambah kurang. Sebagian peserta didik sudah mampu melakukan operasi hitung perkalian dan pengurangan. Ketika sudah mengetahui kesiapan siswa, guru dapat lebih mudah pelajaran apa dan dengan metode apa mereka diajarkan,” imbuh Enung.

Terkait dengan penyelenggaraan workshop, Kepala SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo Sri Sayekti mengatakan, sebagai salah satu Sekolah Penggerak, SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo akan terus berupaya menyesuaikan pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka Belajar. Kurikulum berparadigma baru ini merupakan kurikulum pembelajaran yang mengacu pada minat dan bakat siswa.

“Mudah-mudahan menjadi bekal yang cukup untuk menyongsong tahun pelajaran 2022/2023, karena tahun depan kita telah memasuki Kurikulum Merdeka tahun kedua,” tutur Sayekti saat dihubungi Eduwara, Senin (28/3/2022).

Read Next