logo

Art

“Seribu Kunang-kunang di Manhattan” Pertemukan Budaya Timur dan Barat

“Seribu Kunang-kunang di Manhattan” Pertemukan Budaya Timur dan Barat
Teater Bakat mementaskan Seribu Kunang-kunang di Manhattan di TBJT, Rabu (24/11/2021). Eduwara.com/ M Diky Praditia
Redaksi, Art26 November, 2021 22:27 WIB

Eduwara.com, SOLO—Deep blue sea, Baby deep blue sea, Deep blue sea, Baby deep blue sea…Pentas Teater Seribu Kunang-kunang di Manhattan itu dibuka dengan lagu berjudul Deep Blue Sea yang dibawakan secara apik oleh pemain musik pengiring pentas itu. Gaya busana tahun 1970-an yang mereka kenakan menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton. Mereka menjadi magnet awal dalam pertunjukan itu.

Keadaan menjadi hening ketika nyanyian itu terhenti. Jane, yang diperankan oleh Afifa Enggar, memecah keheningan itu dengan melontarkan pernyataan kepada Marno, yang diperankan oleh Dimas Suro Aji. 

"Bulan itu ungu, Marno," kata Jane sembari sedikit menyandarkan tubuhnya kepada Marno yang duduk bersamanya di sofa. 

Marno, yang diceritakan sebagai orang desa dari Indonesia itu tidak mengiyakan perkataan lawan bicaranya. Walaupun Jane memaksanya agar ia percaya perkataanya, Marno tetap tidak mempercayainya. 

Mereka terus bercakap. Sesekali Jane meminum Martininya, sedangkan Marno hanya minum air es saja. Jane, seorang wanita Amerika, lebih banyak bercerita dibanding Marno. Sampai suatu ketika, Jane yang sudah mulai mabuk, tiba-tiba memberikan sebuah bungkusan kepada Marno. 

"Marno, manisku. Kau harus berterima kasih kepadaku. Aku telah menepati janjiku"

"Apakah itu, Jane?"

"Piyama. Aku telah belikan kau piyama, tadi. Ukuranmu medium large kan?

Umar Kayam

Marno menyukai piyama itu. Namun ia tak yakin untuk memakainya. Ia tidak ingin tidur bersama dengannya. Marno memilih pergi dari rumah Jane. 

Pentas Teater Bakat digelar di Pendopo Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Rabu (24/11/2021) itu berjalan dengan lancar. Walaupun pentas tersebut ditayangkan secara daring melalui kanal YouTube Dinas Kebudayaan (Disbud) Solo, namun ada beberapa orang yang diizinkan untuk menontonnya secara langsung. 

Seorang penonton sempat mengira musik pengiring dalam pentas yang bekerja dengan Disbud itu adalah rekaman. Padahal musik pengiringnya dimainkan secara langsung oleh enam personel. 

"Pemain musik total ada enam personel, dua cewek sebagai vokalis, empat orang lain memainkan instrumen musik," jelas Adhilya Fitria Utami Grenith, vokalis grup musik itu saat ditemui Eduwara.com selepas pentas. 

Salah seorang vokalis lain, Nur Afifah C.T. atau yang kerap disapa Nur, mengatakan pengiring musik sengaja mengenakan busana gaya 70-an karena ingin menyesuaikan dengan isi ceritanya. 

Teater Bakat mementaskan Seribu Kunang-kunang di Manhattan di TBJT, Rabu (24/11/2021). Eduwara.com/ M Diky Praditia

 

sutradara pentas, M. Ahmad Afifudin, yang kerap dipanggil Afif, menjelaskan pentas itu mengadapatasi dari cerpen karya Umar Kayam. "Kami ingin mementaskan karya itu.  Kami menilai ceritanya sangat unik. Marno yang sudah memiliki istri dan anak di Indonesia, namun menajlin hubungan dengan perempuan Amerika," ungkapnya.

Lebih lanjut lagi, Afif mengatakan cerita itu menyimbolkan bertemunya budaya barat, yang diwakilkan oleh tokoh Jane, dengan budaya timur, yang diperankan oleh Marno. Kedua tokoh itu sama-sama mempertahankan budayanya, namun tetap saling menghormati.

Secara keseluruhan pentas berjalan dengan baik dan dapat dibilang sukes. Terdapat kendala teknis, namun tidak menjadi masalah yang berarti. "Misal kurangnya koordinasi antara tim produksi Teater Bakat dengan event organizer sehingga penayangan pada kanal YouTube Disbud tidak maksimal," kata Afif.

Sayang, pertunjukkan teater yang ciamik itu harus dicederai dengan suara kodok yang terus berbunyi hampir sepanjang pertunjukan. Pentas yang terrmasuk dalam rangkaian acara bertajuk Panggung Budaya Seni Rakyat itu memang berbarengan dengan hujan turun. Namun, hal itu tidak mengalahkan kemeriahan pentas. (M. Diky Praditia)

Editor: Riyanta

Read Next