logo

Vokasi

SIPINTER PEM Akamigas Raih Pendanaan dari INCUBITS

SIPINTER PEM Akamigas Raih Pendanaan dari INCUBITS
SIPINTER mengantarkan tiga mahasiswa Program Studi Teknik Instrumentasi Kilang PEM Akamigas, yaitu Akbar Pratama, Adi Alson dan Rizky Muhammad Afandi lolos tahap akhir pendanaan dari INCUBITS sebesar Rp 15.900.000. (EDUWARA/Dok. PEM Akamigas)
Redaksi, Vokasi19 Mei, 2023 00:01 WIB

Eduwara.com, BLORA – Tim mahasiswa Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas berhasil lolos tahap akhir pendanaan dari INCUBITS. Tim yang beranggotakan tiga mahasiswa Program Studi Teknik Instrumentasi Kilang yaitu Akbar Pratama, Adi Alson dan Rizky Muhammad Afandi, mengusung SIPINTER dan berhak menerima pendanaan sebesar Rp 15.900.000.

“Jadi dari banyak peserta, hanya lima peserta terbaik yang lolos pendanaan. Salah satunya, SIPINTER dari PEM Akamigas,” cerita Akbar Pratama, mengabarkan prestasi yang diraih SIPINTER melalui rilis Kamis (18/5/2023).

INCUBITS merupakan platform kolaborasi untuk mengembangkan inovasi di bidang WASH (Water, Sanitation and Hygiene) dengan mengumpulkan para innovator di Indonesia. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, UNICEF dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) melakukan seleksi panjang terhadap karya-karya para innovator di seluruh Indonesia untuk memberikan solusi terhadap permasalahan air minum, sanitasi dan higienitas.

Pitch Battle Presentation dilaksanakan pada 10-11 April 2023. Lalu pada 8 Mei 2023 terpilih lima tim terbaik, yaitu SIPINTER, Hydro Hero, Patrick Spray, Ozone, dan Hygiene Hero,” papar Akbar.  

SIPINTER atau Sistem Perairan Terintegrasi, lanjut Akbar, merupakan inovasi yang memanfaatkan teknologi untuk mengatasi permasalahan air dan energi listrik saat darurat bencana. 

Pemasangan instalasi SIPINTER oleh mahasiswa PEM Akamigas. (EDUWARA/Dok. PEM Akamigas)

Desa Terpencil

Akbar menuturkan, ide SIPINTER berawal dari kelompok diskusi di Laboratorium Energi mengenai kepedulian dosen dan teman-teman terhadap kegiatan program pengabdian kepada masyarakat. Dari isu keterbatasan akses energi listrik di desa terpencil di wilayah Kabupaten Blora, hingga isu keterbatasan air ketika kondisi kemarau.

Di bawah bimbingan dosen PEM Akamigas, yaitu Novan Akhiriyanto dan Alfin Sahrin, Akbar dan kedua temannya mencoba memikirkan cara agar akses energi listrik dan ketersediaan air di desa terpencil atau di daerah yang memiliki keterbatasan air bisa merata secara kontinu.

“Akhirnya kami bertiga membuat SIPINTER yang terdiri dari tiga produk, yaitu QREEN, PEMASOL dan SAPTA sebagai solusi awal yang berkelanjutan dan mendukung SDGs poin keenam dan ketujuh,” papar Akbar. 

QREEN pada SIPINTER, lanjut Akbar berfungsi sebagai PLTS portable yang mampu memberikan respon cepat terhadap kondisi pasca bencana. Kemudian PEMASOL memberikan sistem akses air bersih untuk kebutuhan pertanian dan MCK. Sedangkan SAPTA merupakan sistem pertanian skala rumahan yang minim air ketika musim kemarau.

“Implementasi project ini telah kami lakukan secara bertahap mulai tahun 2020 lalu, hingga sekarang SIPINTER ini sudah diimplementasikan di tiga desa, yaitu Ledok dan Temengeng di Kecamatan Sambong, dan Njoho di Kecamatan Cepu,” pungkasnya. (*)

Read Next