logo

Sains

Survei Menunjukkan Anak Muda Indonesia Tetap Optimistis Soal Pendidikan

Survei Menunjukkan Anak Muda Indonesia Tetap Optimistis Soal Pendidikan
Asean Youth Survey yang dilakukan oleh Redhill. (Redhill)
Bunga NurSY, Sains20 Desember, 2021 14:12 WIB

Eduwara.com, BALIKPAPAN—Anak muda Indonesia rupanya tetap cukup optimistis dalam memandang keberlangsungan pendidikan di tengah pandemi Covid-19, meskipun tekanan dalam menjalani pembelajaran dipandang tetap cukup tinggi.

Hal ini tercermin dalam Asean Youth Survey yang dilakukan oleh Redhill. Survei ini menganalisa peran anak muda di Asia Tenggara sebagai pendorong utama perubahan ekonomi, budaya, dan sosial-politik. Redhill adalah perusahaan Public Relations (PR) dan komunikasi yang berbasis di Singapura.

Studi ini mencoba untuk mengetahui bagaimana aspirasi dan kekhawatiran mereka tentang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, perawatan kesehatan, pilihan hidup, dan aktivitas online – melalui pendapat dari hampir 3.000 orang berusia 18-35 tahun di tujuh negara Asean termasuk Indonesia.

Pranav Rastogi, Managing Director Redhill, mengatakan dua tahun terakhir ini adalah waktu yang sangat menantang bagi anak muda di Indonesia, tetapi hal ini tidak mengurangi optimisme mereka untuk masa depan yang lebih baik. Hal ini muncul karena sikap mereka yang sebagian besar sangat positif terhadap bagaimana cara pemerintah menangani situasi pandemi di berbagai bidang.

“Meskipun ada kekhawatiran tentang pemulihan jangka panjang, anak muda Indonesia masih percaya bahwa mereka memiliki platform untuk membangun sesuatu, bersamaan dengan usaha mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di era new normal,” katanya melalui siaran pers yang diterima Eduwara.com, Senin (20/12/2021).

Di seluruh wilayah Asean, sebagian besar responden percaya bahwa memperoleh pembelajaran di level pendidikan dasar dan tinggi itu mudah. Perinciannya, 70 persen responden menganggap pembelajaran pendidikan dasar itu mudah dan 83 persen berpendapat pembelajaran pendidikan tinggi itu tak mengalami kendala berarti.

Dalam hal apakah sistem pendidikan Indonesia sangat kompetitif, hampir 60 persen responden setuju.  Namun, Sebagian besar responden (46 persen) tidak yakin akan kemampuan mereka untuk menangani stres terkait pendidikan, dibandingkan dengan 43 persen yang lebih yakin.

Aktivitas Daring (Online)

Survei juga menemukan bahwa anak muda Indonesia terhubung secara digital. Sebagian besar responden utamanya mendapat sumber berita mereka dari media sosial (83 persen), dan sebanyak 46 persen menghabiskan antara 5-10 jam sehari pada platform tersebut. 

Dengan ketergantungan digital ini, sebagian besar pemuda Indonesia (80 persen) percaya bahwa harus ada lebih banyak pendidikan untuk membantu masyarakat dalam menentukan keakuratan berita. 

Meski begitu, sebanyak 48 persen percaya bahwa peraturan negara mereka efektif dalam mengekang berita palsu dan dengan itu, sebanyak 44 persen menunjukkan kenyamanan tentang opini asli politik mereka yang dipengaruhi oleh wacana politik daring.

Ketika ditanya tentang pilihan hidup mereka, responden diberi daftar hal-hal yang ingin dicapai dalam hidup untuk mengukur tingkat kepentingannya. Di Indonesia, Kesehatan ada di peringkat tertinggi (94 persen), diikuti oleh keluarga dan pendidikan (keduanya 93 persen), perlindungan terhadap lingkungan (90 persen) dan pengembangan pribadi (87 persen).

Dengan pandemi yang sedang berlangsung, anak muda Indonesia memilih untuk berhemat. Sebagian besar (54 persen) menyatakan bahwa mereka tidak merasa sering menghabiskan uang untuk kemewahan seperti hiburan dan liburan. 

Namun, mereka lebih optimis dengan rencana masa depan mereka; di mana sebagian besar (82 persen) berpendapat bahwa memiliki rumah sendiri merupakan hal yang realistis secara finansial. 

Namun, hal tersebut diimbangi oleh sebanyak 36 persen yang percaya bahwa membangun keluarga tidak akan menantang secara finansial, karena mayoritas (37 persen) lebih ambivalen sementara 27 persen merasa khawatir.

 

Read Next