logo

Kampus

Riset UMBY: Pergaulan dan Kemiskinan Sebabkan Tindakan Kekerasan Oleh Remaja di Yogyakarta

Riset UMBY: Pergaulan dan Kemiskinan Sebabkan Tindakan Kekerasan Oleh Remaja di Yogyakarta
Penelitian dosen Fakultas Psikologi UMBY Sri Muliati Abdullah, saat diskusi pada Rabu (5/4/2023) menyebut faktor dominan tindak kekerasan oleh remaja di Yogyakarta disebabkan pergaulan dan kemiskinan. (Eduwara/Setyono)
Setyono, Kampus06 April, 2023 14:38 WIB

Eduwara.com, JOGJA – Penelitian dosen Fakultas Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Sri Muliati Abdullah menyebutkan faktor dominan terjadinya tindak kekerasan oleh remaja di Yogyakarta disebabkan oleh pergaulan dan kemiskinan.

Faktor penyebab maraknya kekerasan oleh pelajar ini disampaikan Sri Muliati dalam paparannya berjudul "Menjaga moralitas remaja Yogyakarta melalui implementasi perda Pendidikan Pancasila; Tantangan dan Peluang', yang disampaikan Rabu (5/4/2023) sore.

"Dalam penelitian saya faktor penyebab internal dan eksternal sama kuat pengaruhnya. Sebanyak 48 persen responden menyatakan pengaruh lingkungan pergaulan yang buruk dominan menyebabkan kenakalan remaja," kata Sri Muliati.

Disampaikan pula faktor tersebut merupakan bagian dari faktor eksternal dan didukung faktor internal berupa kontrol diri remaja yang lemah dalam menangkal pengaruh buruk dari lingkungan sekitar.

"Hal ini umum terjadi pada fase remaja yang sedang mengalami krisis identitas. Bergabungnya dalam kelompok ini menjadi pelarian mereka akan kebutuhan pengakuan," tegasnya.

Tak hanya itu, sebanyak 21 persen responden menyatakan salah satu pemicu kenakalan remaja hingga melakukan kriminalitas diakibatkan kemiskinan yang dialami keluarga. Kondisi miskin kerap menimbulkan konflik dan bisa memicu tindak kekerasan di lingkungan rumah tangga.

"Ketika remaja terbiasa menyaksikan tindak kekerasan di sekitarnya, maka akan lebih mudah untuk ikut melakukannya dengan dorongan dari pergaulan yang juga diwarnai tindak kekerasan," ungkapnya.

Penelitiannya Sri Muliati juga menggambarkan bahwa hampir dari separuh responden menyatakan kehadiran keluarga menjadi faktor penting dalam pencegahan remaja terlibat dalam tindak kekerasan jalanan.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan dibutuhkannya peningkatan patroli penegak hukum maupun mewadahi aktivitas remaja agar menekan gejolak godaan melakukan tindak kekerasan.

Dalam proses penanggulangan masalah ini, anggota DPRD DIY Stevanus C. Handoko menyatakan tidak hanya sekedar dibutuhkan peran besar dari keluarga namun juga konsep pendidikan di Yogyakarta diharapkan berbasis pada kebudayaan.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah tindak kekerasan remaja adalah pengimplementasian pendidikan khas Kejogjaan di seluruh jenjang Pendidikan di DIY. Menurutnya, saat ini ada kecenderungan generasi muda DIY kurang memahami tentang sejarah, budaya, adat istiadat yang hidup dan berkembang di DIY.

"Secara regulasi terkait dengan grand design pendidikan khas Kejogjaan sudah selaras dengan perda yang dimiliki DIY yaitu Perda Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Budaya," ujar Stevanus.

Pendidikan Ke-Jogja-an, baginya sudah semestinya dapat mewarnai Pendidikan nasional yang sudah ada serta mendorong keunggulan komparatif dan kompetitif berdasar nilai-nilai luhur budaya.

Ini agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi diri sehingga menjadi manusia yang unggul, cerdas, visioner, peka terhadap lingkungan dan keberagaman budaya.

 

Read Next