55 Sekolah di Yogyakarta Ditetapkan Sebagai Sekolah Aman Bencana

02 November, 2022 13:35 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Bunga NurSY

Opera Snapshot_2022-11-02_121046_www.youtube.com.png
Hasi tangkap layar siaran youtube Humas Jogja. Deputi Bidang Pencegahan BNPB Prasinta Dewi menyatakan 397 ribu santuan pendidikan berada di kawasan rawan bencana, Rabu (2/11/2022). (Eduwara/Setyono )

Eduwara.com, JOGJA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta menetapkan 55 sekolah sebagai Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Secara nasional, sebanyak 397.500 sekolah berada di kawasan dengan risiko bencana kategori tinggi dan sedang.

Kepala Pelaksana BPBD Biwara Yuswantana mengatakan program SPAB di sekolah-sekolah seluruh DIY penting digalakkan karena hampir semua daerah memiliki risiko ancaman bencana.

"Dari indeks risiko bencana nasional, DIY dengan poin 126,34 masuk kategori berisiko sedang terhadap terjadinya 16 ancaman bencana alam maupun kemanusiaan," kata Biwara, Rabu (02/11/ 2022)

Dia menambahkan, seluruh satuan pendidikan, mulai taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi di DIY rawan terkena bencana  erupsi Gunung Merapi, tanah longsor, banjir, banjir bandang, angin kencang/cuaca ekstrem, gelombang pasang, abrasi, gempa bumi, tsunami, kekeringan, dan kebakaran hutan lahan.

Melalui SPAB inilah, BPBD berupaya meningkatkan kapasitas maupun pengetahuan masyarakat untuk mengenali, mewaspadai dan mengantisipasi terjadinya bencana.

"Program ini bertujuan mendorong warga sekolah baik guru, tenaga kependidikan maupun murid agar menjadi subyek dalam penanggulangan bencana. Bukan lagi objek dalam penanggulangan bencana," lanjut Biwara.

Dalam program tersebut, tenaga kependidikan dibekali keterampilan mengenal ancaman bencana, pertolongan pertama pada gawat darurat (PPGD), menyusun rencana kontinjensi, dan mengintegrasikan materi pengurangan risiko bencana ke dalam kurikulum pembelajaran.

"Lalu, semua warga sekolah juga diajak melakukan gladi lapang bencana guna memahami cara evakuasi yang baik dan benar manakala terjadi suatu bencana," jelasnya.

Diprogramkan dalam dua tahun terpisah, program SPAB pertama kali dilaksanakan pada 2020 dengan menggandeng 20 sekolah. Kemudian dilanjutkan tahun ini dengan menyasar 35 sekolah.

Biwara berharap 11 sekolah yang telah dipilih di masing-masing kabupaten kota di DIY nantinya menjadi sekolah perintis yang  menginisiasi sekolah-sekolah lain masuk program SPAB.

Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Prasinta Dewi menyebut dari 530 ribu sekolah di Indonesia, hampir 75 persen atau setara dengan 397 berada di kawasan rawan bencana.

"Dalam satu dekade terakhir, 10 ribu sekolah dengan 10 juta siswa terdampak bencana. Terakhir adalah kasus banjir di Jakarta Oktober kemarin yang menewaskan tiga siswa saat jam pelajaran," jelasnya.

Keberadaan program SPAB ini tidak hanya memberi bekal dan pengetahuan sejak dini mengenai kewaspadaan bencana. Namun juga merupakan upaya menjamin keberlangsungan hak mendapatkan pendidikan bagi anak Indonesia yang aman dan nyaman.

"Saat ini 10 persen dari total santuan pendidikan yang sudah masuk program SPAB. Jumlah ini meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Ini menandakan kesadaran akan bahaya dan antisipasi bencana sudah mulai meningkat," tutup Prasinta.