Desain Rusun untuk Tuna Wisma, Mahasiswa FTUI Jadi Juara di Kompetisi Internasional

25 Januari, 2022 17:34 WIB

Penulis:Bhakti Hariani

Editor:Ida Gautama

25012022-UI Desain Rusun Tunawisma.jpg
Desain The Passage karya mahasiswa FTUI yang menjadi juara dalam kompetisi Internasional Skid Row 2021: International Design Competition yang diselenggarakan oleh The American Institute of Architects (AIA) Committee on Design (EDUWARA/Humas UI)

Eduwara.com, DEPOK – Desain rumah susun (rusun) bagi para tuna wisma perkotaan di masa pandemi karya tiga mahasiswa Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) berhasil menyabet juara dua dalam kompetisi Internasional Skid Row 2021: International Design Competition yang diselenggarakan oleh The American Institute of Architects (AIA) Committee on Design. Ketiga mahasiswa FTUI tersebut adalah Aurelia Audrey, Rifki Fauzan, dan Tannia Aurellia. 

Dekan FTUI Heri Hermansyah menyampaikan apresiasi atas pencapaian prestasi internasional yang diraih mahasiswa arsitektur FTUI beserta pembimbingnya. Heri berharap agar pencapaian para mahasiswa tersebut dapat memotivasi mahasiswa arsitektur lainnya untuk mengembangkan minat dan potensi di bidang arsitektur dan menambah kepercayaan diri dalam bersaing di dunia internasional. 

“Semoga desain The Passage ini juga dapat diimplementasikan di Indonesia dengan menyesuaikan kondisi yang ada sebagai alternatif solusi permasalahan gelandangan dan pengemis (gepeng) yang semakin marak di kota-kota besar Indonesia,” ujar Heri dalam siaran pers yang dikirimkan Biro Humas dan KIP Universitas Indonesia kepada redaksi Eduwara.com, Selasa (25/1/2022).

Tim FTUI yang meraih juara dalam kompetisi ini berada dalam bimbingan dosen Departemen Arsitektur FTUI dan arsitek profesional yakni Evawani Ellisa, Baiq Lisa Wahyulina, dan Farrell Jeremiah. The Passage berkompetisi dengan karya-karya lain dari seluruh dunia dalam kompetisi yang diselenggarakan pada 8 Oktober 2021 – 3 Januari 2022.

Tania Aurellia memaparkan, permasalahan tuna wisma merupakan masalah yang melekat dan menjadi krisis di sebagian besar kota di sekitar kita tak terkecuali di Indonesia dan juga di negara maju seperti Amerika Serikat. Diungkap Tannia, pada kawasan kumuh di kawasan Skid Row District, Los Angeles, Amerika Serikat, ada 10.580 orang dan sekitar setengahnya hidup sebagai gelandangan. 

Hal yang mengejutkan, mayoritas penghuni kawasan kumuh ini adalah orang dewasa pada usia produktif.  “Tentunya ini menjadi masalah, apalagi terpola pemikiran/mindset yang membuat mereka terus terjebak hidup di daerah kumuh tanpa merasa ada harapan untuk mengubah nasib mereka,” kata Tannia terkait kondisi warga Skid Row District.

Lebih lanjut dikatakan dia, filosofi desain The Passage ini sebagai jalan setapak yang sempit, tapi juga menjadi tempat untuk menjalani kehidupan yang besar dan dinamis. “Kami ingin The Passage sebagai dorongan untuk maju dan selalu bergerak menuju cara hidup yang lebih baik, terpenuhi, aman dan sehat,” tutur Tannia.

Melalui desain ini, Tim FTUI ingin membuat perubahan bagi masyarakat untuk membuka pikiran mereka untuk mencapai produktivitas dan kebersamaan. Sebuah ikhtiar dan juga harapan bagi para tunawisma untuk menjalani masa depan yang lebih baik.

Tiga orang mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia yakni Aurelia Audrey, Rifki Fauzan, dan Tannia Aurellia yang menjadi juara dalam kompetisi Internasional Skid Row 2021: International Design Competition yang diselenggarakan oleh The American Institute of Architects (AIA) Committee on Design. (EDUWARA/Humas UI)

Sirkulasi dan Interaksi

Sementara itu, Pakar Perancangan Kota Evawani Ellisa yang juga Dosen Departemen FTUI memaparkan, desain ini diharapkan dapat menjadi jawaban untuk menjawab tiga permasalahan utama yang dihadapi tuna wisma, yaitu tidak produktif, diskriminasi, dan tidak adanya atau kurangnya perlindungan bagi mereka. 

“Kami ingin The Passage menjadi ruang untuk mengejar produktivitas, memastikan perlindungan bagi individu untuk meningkatkan peluang mereka di masyarakat dan sebagai wadah yang mendukung kegiatan berbasis komunitas yang mendorong kesetaraan dan interaksi sosial,” ujar Evawani.

Anggota Tim FTUI lainnya yakni Rifki Fauzan menuturkan, hal yang paling penting dan mendasar dalam pembangunan rusun ini adalah desain untuk pembuatan sirkulasi. Dimana sirkulasi ini membuat para tuna wisma dapat menjalani interaksi positif yang sehat

“Jadi, idenya disini adalah untuk menciptakan ruang dengan keterbukaan dan fleksibilitas yang memfokuskan pada aspek-aspek positif dari kehidupan jalanan yakni kehidupan yang dinamis dan interaksi sosial, dan menciptakan kembali aspek-aspek ini pada ruang yang lebih aman dan lebih baik untuk ditinggali,” kata Rifki.

Terkait desain The Passage, Dosen FTUI Baiq Lisa menjelaskan, yakni berupa dua massa bangunan utama yang dirangkul oleh void guna mempertegas strategi pembentukan ruang sirkulasi utama yang bersifat linear. 

Elemen sirkulasi penghubung antar unit didesain berupa ramp yang membentuk ruang komunal linear multifungsi yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas pengembangan diri para tunawisma. 

Lay-out nya bersifat open plan guna merespon tantangan kebutuhan ruang di masa mendatang, baik dalam kondisi pandemi maupun non-pandemi,” ungkap Baiq.

Sedangkan ruang komunitas ditempatkan di bagian paling depan. “Ini merupakan ruang terbuka yang dipenuhi tanaman hijau dan tangga yang dilengkapi dengan area duduk. Tujuannya untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi masyarakat, meningkatkan interaksi satu sama lain, dan guna melakukan kegiatan sosial bagi masyarakat,” papar Baiq.

Selanjutnya, kata Baiq, mulai dari lantai dua sampai enam, ruang tengah bangunan dilengkapi dengan tanjakan panjang yang menghubungkan semua tingkat yang berisi unit hunian sampai ke bagian atas bangunan. Setiap berpindah ke lantai berikutnya melalui ramp, maka penghuni akan melewati teras yang dilengkapi dengan ruang terbuka hijau. Fungsinya sebagai penyangga dan ruang bersama bagi penghuni di setiap lantai.