Guru PAUD dan Orang Tua Wajib Mengenalkan Nilai Luhur Pancasila dalam Keseharian Anak

03 Agustus, 2022 22:53 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Ida Gautama

03082022-Paudpedia Guru PAUD Kenalkan Nilai-nilai Luhur Pancasila.jpg
Ngobrol Bareng Legislator dengan tema Peran Perempuan dalam Menanamkan Nilai-Nilai Pancasila Sejak Usia Dini di Era Digital, secara daring dan live via YouTube, Jumat (29/7/2022). (EDUWARA/Paudpedia)

Eduwara.com, JAKARTA – Pancasila sebagai dasar negara harus tertanam secara tepat dalam hati serta sanubari anak Indonesia. Oleh karena itu, pemahaman dan penanaman tentang nilai-nilai luhur Pancasila ini tidak dimulai saat anak di bangku Sekolah Dasar (SD) tetapi sejak usia dini, di satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) supaya menjadi pondasi dalam diri sehingga ketika anak dewasa memiliki karakter kebangsaaan.

Pasalnya, anak-anak usia dini, yang masih berada dalam usia emas, akan sangat mudah menangkap dan mempraktikkan suatu hal. Oleh karena itu, wajib dan perlu bagi setiap orang tua dan guru di satuan PAUD mengenalkan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian anak. Namun, tentu saja bukan memperkenalkan secara teoritis, anak-anak bisa mengenal Pancasila melalui aktivitas sehari-hari

Hal itu disampaikan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Idham Samawi dalam webinar Ngobrol Bareng Legislator dengan tema Peran Perempuan dalam Menanamkan Nilai-Nilai Pancasila Sejak Usia Dini di Era Digital, secara daring dan live via YouTube, Jumat (29/7/2022).

"Sejak dini anak-anak harus paham, kenapa negara ini harus merdeka. Maka peran ibu menjadi sangat strategis untuk mengajarkan nilai-nilai implementasi Pancasila yang dimulai dari keluarga. Saya mengajak ibu-ibu untuk mendidik dan menyiapkan anak-anaknya menjadi pemimpin negara kita dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dari sila pertama sampai sila kelima, agar kelak mampu menata negara Indonesia yang lebih baik,” kata Idham Samawi, seperti dilansir Eduwara.com, Rabu (3/8/2022) dari laman resmi Direktorat PAUD Kemendikbudristek.

Pada era digital saat ini, sambung Idham, banyak tantangan dalam upaya untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda. Informasi yang semakin mudah diakses dan terbuka, merupakan tantangan yang harus dihadapi seorang ibu dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila sejak dini.

Idham mengungkapkan Pancasila merupakan satu-satunya ideologi dan dasar negara yang bisa menyatukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut dia, implementasi dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila akan terus berkembang, akan tetapi lima butir Pancasila tidak bisa diganggu gugat.

“Maka itu, penting mengajarkan nilai-nilai Pancasila sejak dini, karena anak-anak kita pada saatnya nanti akan jadi pemimpin di bidangnya masing-masing di Indonesia,“ ujar dia.

Tiga Ancaman Utama

Pada kesempatan tersebut, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan Pancasila yang merupakan nilai luhur bangsa menjadi way of life yang hadir pada setiap kehidupan di keluarga dan masyarakat sehingga sangat tepat bila keluarga menjadi sumber untuk melestarikan nilai bangsa.

“Di era digital ini penguatan peran keluarga dan masyarakat memahami Pancasila secara konseptual sangat penting dan menanamkan Pancasila dalam Keluarga bisa melalui alat moderen seperti YouTube, berbasis e-learning, dan sebagainya,” ungkap dia.

Dijelaskan Hasto, delapan fungsi keluarga juga harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari karena ada tiga ancaman utama terhadap generasi muda Indonesia. Ketiga ancaman tersebut adalah stunting, mental emotional disorder, serta disabilitas dan narkotika.

Menurut Hasto, berdasarkan riset kesehatan dasar, mental emotional disorder atau gangguan emosi mental di kalangan remaja dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

Sejalan dengan itu, Gloria Angelita mengatakan peran ibu sebagai pondasi utama dan terkuat untuk menjadi pijakan anak-anak yang dapat memberikan pengenalan nilai nilai Pancasila melalui interaksi sehari-hari.

“Perempuan merupakan faktor penting dan kunci keberhasilan sebuah negara, yang harus memiliki aura positif di tengah keluarga maupun publik khususnya dalam mendidik anak-anaknya. Serta dapat turun berperan serta memperbaiki mentalitas dan moral bangsa melalui perannya sebagai ibu di ranah keluarga,” pungkas dia. (K. Setia Widodo/*)