Ilmu Komunikasi UB Luncurkan Kampoeng Heritage Retropolitan Kajoetangan

14 Maret, 2022 22:50 WIB

Penulis:Fathul Muin

Editor:Ida Gautama

14032022-UB Kampung Kayutangan.jpg
Salah satu sudut Kampoeng Heritage Retropolitan Kajoetangan. (EDUWARA/Istimewa)

Eduwara.com, MALANG — Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya (UB) resmi meluncurkan branding baru salah satu kampung tematik di Kota Malang, Kayutangan, menjadi Kampoeng Heritage Retropolitan Kajoetangan.

Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UB, Reza Safitri, mengungkapkan program ini merupakan salah satu bentuk Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dilakukan 12 mahasiswa Ilmu Komunikasi dan bekerjasama dengan Nava+ serta Indopol.

"Program ini dirancang untuk meningkatkan kemanfaatan dan relevansi sekaligus menyelaraskan pengembangan ilmu dan teknologi yang terjadi di perguruan tinggi agar selaras dengan pemenuhan kebutuhan atau pemecahan permasalahan dunia usaha, dunia industri serta masyarakat," ujar Reza Safitri di sela-sela Peluncuran Branding Kayutangan di lantai 7 Gedung C FISIP UB, Senin (14/3/2022).

Alumni S3 Ilmu Komunikasi Universiti Malaya ini menyatakan ada dua program yang dijalankan, yakni riset bersama Indopol tentang bagaimana perilaku pariwisata saat Covid-19.

"Sementara dengan Nava+, kami melakukan pendampingan pengelolaan dan pengembangan pariwisata. Salah satunya yang kemudian dikenalkan saat ini Kampoeng Heritage Retropolitan Kajoetangan," ucapnya.

Ignasius Seno, mahasiswa Ilmu Komunikasi UB membeberkan pihaknya mengawali dengan melakukan riset tentang lokasi wisata di Malang Raya.

"Dan hasilnya dari 176 responden yang kami jaring, hanya 18,4 persen yang tahu tentang Kampoeng Heritage Kajoetangan. Sementara mayoritas sekitar 56,8 persen lebih tahu Kampung Warna-Warni," jelasnya.

Dari 18,4 persen yang tahu tadi berpendapat, Kampoeng Heritage Kajoetangan merupakan tempat yang menyajikan suasana vintage, memuat karakter jadoel (jaman dulu), tradisional serta cocok jadi lokasi selfie.

Berangkat dari hasil riset tersebut, kata Seno, Ilmu Komunikasi UB dan Nava+ mencanangkan branding baru bernama Kampoeng Heritage Retropolitan Kajoetangan.

"Ada unsur Retropolitan di dalamnya karena kami ingin memberikan semangat vintage culture yang menghasilkan kolaborasi kreatif yang transformasi dan inovasi budaya," tutur Ignasius Seno.

Selain itu, pihaknya juga ingin melestarikan tradisi gotong royong yang memiliki nilai tambah dalam industri pariwisata dan ekonomi kreatif.

"Kami juga menggelorakan gerakan romantisme tempo doeloe dengan mengeksplorasi berbagai ekspresi sejarah, estetika, multietnis dan budaya lintas masa yang bertransformasi ke masa modern," katanya.

Untuk mendukung branding ini, para pelaksana kegiatan telah membuat beberapa karya lain seperti website tentang Kampoeng Heritage Retropolitan Kajoetangan, lomba video kreatif yang diikuti ratusan peserta, serta memproduksi brand book tentang Kampoeng Heritage Retropolitan Kajoetangan.

Mila, perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampoeng Heritage Kajoetangan, mengapresiasi sumbangsih yang telah dilakukan, yang salah satunya memunculkan branding retropolitan di Kampung Kayutangan.

"Semoga ini membawa keberkahan dan secara bertahap hal hal yang sudah dicanangkan di destination branding ini berjalan dengan baik," ucapnya.