Kampus
29 Januari, 2026 02:10 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Dua pakar kesehatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyarankan untuk mengurangi aktivitas bermain game dan menjaga pola tidur demi kesehatan mental. Berkurangnya waktu tidur dan terlalu lama bermain game, dinilai akan menurunkan kebugaran. Kualitas hidup juga ikut terdampak karena tubuh rentan akan berbagai penyakit seperti obesitas.
Dosen Program Studi (prodi) Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Heru Subekti, mengatakan indikator kuat bermain game akan berdampak buruk pada kesehatan adalah lebih dari 10 jam per minggu.
“Kelompok bermain game di atas 10 jam per minggu memiliki kondisi kesehatan yang memburuk seperti kesehatan fisik, masalah gangguan tidur, sedentary lifestyle hingga dapat menyebabkan obesitas dengan risiko yang lebih besar dibanding mereka yang tidak banyak bermain game,” kata Heru Subekti, Selasa (27/1).
Heru mengatakan banyaknya anak atau remaja yang kecanduan bermain game disebabkan oleh adanya hormon dopamin di dalam tubuh yang membuat mereka merasa senang ketika sedang bermain. Rasa senang tersebut yang akhirnya membuat mereka semakin hari tingkat kesenangannya meningkat.
Jika anak-anak atau remaja sudah mengalami kecanduan game, lanjut Heru, gejalanya bukan hanya sebatas obesitas, tetapi menjadi sebuah gangguan pada kesehatan mental.
Menurut Heru, jumlah waktu ideal untuk bermain game adalah sebanyak 5 jam per minggu. Jumlah tersebut merupakan waktu yang ideal untuk mengatasi permasalahan pada gangguan kesehatan fisik maupun mental.
“Bermain game tak selamanya berdampak negatif, tetapi ada sisi positifnya pada saat penggunaannya itu tepat, dengan jumlah yang tepat, tidak overuse,” jelasnya.
Waktu Tidur
Sementara itu, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY, Tesaviani Kusumastiwi, mengatakan gangguan mental dan penurunan kebugaran juga bisa disebabkan berkurangnya waktu tidur.
“Tidur merupakan proses biologis penting yang berperan besar dalam regenerasi tubuh serta menjaga kesehatan mental manusia. Manusia membutuhkan jeda dari aktivitas fisik dan mental. Tidur merupakan jeda yang sangat penting karena pada saat itulah tubuh melakukan proses pemulihan,” jelasnya.
Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Psikiatri UMY ini menjelaskan bahwa satu siklus tidur akan terus berulang sepanjang malam. Oleh karena itu, kualitas tidur tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu tidur, tetapi juga oleh kelancaran siklus tersebut.
Secara umum, durasi tidur ideal bagi kebanyakan orang berkisar antara 6-8 jam perhari. Namun, tidur yang terlalu singkat maupun terlalu lama, terutama jika disertai kualitas tidur yang buruk seperti sering terbangun atau mengalami mimpi buruk, dapat membuat tubuh tetap merasa lelah saat bangun.
“Tidur yang tidak berkualitas menyebabkan tubuh gagal melakukan regenerasi secara optimal. Dampaknya, kebugaran menurun dan kualitas hidup pun ikut terdampak,” jelasnya.
Ia memastikan pemahaman yang tepat pada tahapan tidur manusia menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan fisik dan mental. Tidur yang cukup dan berkualitas bukanlah sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar setiap manusia.
Bagikan