Kampus
31 Maret, 2026 05:32 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

JOGJA, Eduwara.com - Pelajaran matematika masih menjadi momok bagi sebagian siswa sejak jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Sejumlah studi menunjukkan bahwa minat dan kepercayaan diri terhadap matematika cenderung menurun seiring waktu, meski awalnya siswa memiliki persepsi positif saat pertama kali bersekolah.
Penelitian University of Eastern Finland yang dipublikasikan dalam British Journal of Educational Psychology pada akhir 2023 mengungkapkan bahwa minat serta persepsi kompetensi anak terhadap matematika umumnya baik pada awal masa sekolah. Namun, dalam tiga tahun pertama di sekolah dasar, minat tersebut mulai mengalami penurunan.
Fenomena ini juga tercermin dalam hasil survei Organisation for Economic Co-operation and Development melalui program Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2025. Survei tersebut menunjukkan skor matematika, literasi, dan sains mengalami penurunan secara konsisten sejak 2015.
Dosen Matematika Aljabar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM), Indah Emilia Wijayanti, mengatakan hasil studi tersebut sejalan dengan kondisi di perguruan tinggi. Ia mengamati adanya penurunan signifikan dalam kemampuan berpikir matematis mahasiswa baru.
“Jika dibandingkan, mahasiswa baru program studi Matematika lima hingga sepuluh tahun lalu memiliki kemampuan yang lebih mumpuni dibandingkan sekarang,” ujar Indah, Senin (30/3/2026).
Menurut Indah, penurunan kemampuan tersebut tidak lepas dari fondasi pembelajaran sejak sekolah dasar dan menengah. Berkurangnya kedalaman materi di jenjang awal turut memengaruhi pemahaman di tingkat selanjutnya.
Distraksi
Selain itu, kemajuan teknologi yang mempermudah pengerjaan soal serta meningkatnya distraksi dalam proses belajar juga menjadi faktor penyebab. Hal ini membuat peran pengajar menjadi semakin penting dalam menghadirkan pengalaman belajar yang variatif dan menarik.
Indah menegaskan bahwa kunci utama untuk menguasai matematika adalah melalui latihan yang konsisten. “Dengan berlatih, bahkan dari soal-soal sederhana, otak akan terstimulasi dan kemampuan logika meningkat,” jelasnya.
Indah juga menyoroti pentingnya peran kurikulum dan kebijakan pendidikan. Menurutnya, kurikulum seharusnya memberi ruang kebebasan bagi institusi pendidikan untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih fleksibel.
Di tingkat perguruan tinggi, Indah mendorong agar mahasiswa diberikan kesempatan mengeksplorasi bidang lain di luar matematika. Hal ini dinilai dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir secara komprehensif dan memahami konsep matematika yang lebih kompleks.
“Kita harus bisa mengemas pembelajaran dengan lebih menarik. Biasanya saya mulai dengan motivasi, kemudian teori, dan akhirnya penerapan. Itu menjadi tantangan tersendiri bagi pengajar,” pungkasnya.
Bagikan