Kampus
02 Juli, 2026 11:22 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, Bandung - Lulusan Program Studi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) selama ini lebih dikenal berkarir di ekosistem pariwisata konvensional, maskapai penerbangan, logistik, biro perjalanan wisata, hingga MICE. Namun di balik itu, terbentang jalur karier yang tak kalah menjanjikan: pemerintahan, ekosistem industri halal, dan pasar internasional yang sedang bertransformasi.
Di rumpun keilmuan pariwisata, jurusan UPW menempati posisi favorit ketiga setelah Seni Kuliner (Kitchen) dan Pastry. Tidak heran, karena lulusannya tidak hanya dibekali keterampilan operasional, tetapi juga ilmu perencanaan, keuangan, akutansi, Public Speaking, Protokoler, cargo handling, hingga MICE.
Prima Erlanggana, praktisi senior industri MICE sekaligus pengurus Ikatan Alumni NHI Bandung, menyebutkan bahwa bekal ini membuat lulusan UPW bisa diterima di berbagai sektor. Bahkan, tidak sedikit lulusan UPW yang kini berkarier di luar negeri, seperti Australia dan Selandia Baru, sebagai tour operator yang melayani pasar wisatawan internasional.
"Banyak yang berkarir sebagai General Manager hotel, restoran, bahkan katering," ujarnya.
Namun yang belum banyak terekspos adalah karier lulusan UPW di sektor pemerintahan. Poltekpar NHI Bandung, yang dulunya bernama National Hotel Institute, mencatat alumni jurusan perjalanan wisata bekerja di berbagai kementerian dan lembaga, tidak hanya di Kementerian Pariwisata atau Dinas Pariwisata, tetapi juga di institusi strategis seperti Kemenko Pangan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perindustrian, OJK, BRIN, BUMN bahkan hingga Kantor Staf Presiden. Mereka tersebar sebagai PNS, ASN, maupun P3K.
Andi Rene Rohadian, Praktisi Senior Logistik, Rantai Pasok, dan Kargo Udara yang juga Pengurus Ikatan Alumni NHI Bandung Bidang Legislasi, Luar Negeri, dan Diaspora, melihat kehadiran alumni di berbagai sektor sebagai aset strategis. Ia juga mencatat, sejumlah alumni UPW bahkan berhasil menembus maskapai penerbangan asing, baik di Eropa maupun Timur Tengah, mengisi posisi yang membutuhkan kompetensi lintas budaya dan kemampuan berbahasa asing.
"Praktisi bisa dengan mudah menyampaikan masukan ke regulator melalui jalur Ikatan Alumni sesuai kementerian atau lembaga yang membutuhkan masukan," jelasnya.
Penyesuaian Kurikulum
Di sisi lain, Wisnu Aji Nugroho, Dewan Penasihat Program Studi Usaha Perjalanan Wisata Poltekpar NHI Bandung, menyoroti perlunya mitigasi, review dan penyesuaian kurikulum di seluruh SMK Pariwisata dan Akademi Pariwisata di Indonesia, terutama dengan pesatnya Digitalisasi dan AI dalam kegiatan Pariwisata.
Menurutnya, peluang besar saat ini terbuka di Ekosistem Industri Halal, mulai dari logistik halal, tour leader haji dan umroh, certified muthawwif, hingga halal ground handling, serta peluang berkarier di pemerintahan seperti protokoler dan di kementerian yang mengurus haji dan umroh. Potensi ini diperkuat oleh fenomena transformasi kawasan Timur Tengah melalui Saudi Vision 2030, pembangunan Marina di Abu Dhabi, serta terbukanya destinasi baru di Qatar, Oman, Bahrain, dan Kuwait.
Senada dengan itu, Wiliam Wafi Wisnutama ST SPd, Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Sukasari Bandung yang juga Pengurus Indonesian Tour Leader Moslem Association (ITMA), menambahkan bahwa jaringan institusi Pendidikan Muhammadiyah yang luas, dengan ratusan lembaga pendidikan, termasuk SMK Pariwisata hingga Akademi Pariwisata, menjadi modal besar untuk menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri pariwisata yang terus bergerak.
Ia menyoroti bahwa Selandia Baru saat ini membuka peluang bagi tenaga kerja Indonesia melalui Indonesia Special Work Visa, dengan kuota 100 juru masak terlatih, 20 Juru Sembelih Halal (Halal Slaughterer), dan 20 asisten guru bahasa Indonesia. Visa ini berlaku hingga 3 tahun dan dapat diperpanjang. Profesi Halal Slaughterer bahkan masuk dalam kategori Tier 2, yang membuka peluang mengajukan resident visa setelah dua tahun bekerja.
"Peluang untuk lulusan SMK Pariwisata dan Akademi Pariwisata di manapun, kesempatan terbuka seluas-luasnya dengan remunerasi yang sangat layak," tegas Wafi.
Sektor pariwisata merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia. Presiden Prabowo Subianto pun menaruh perhatian serius pada sektor ini. Pada Minggu, 21 Juni 2026, beliau memanggil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Danantara, Rosan Roeslani, ke kediaman pribadinya di Kertanegara, Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, Danantara didorong untuk membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru melalui penguatan sektor pariwisata, termasuk penyelenggaraan event olahraga, konser musik, hingga industri kreatif. Rosan mengatakan pihaknya mendapat titah baru dari Presiden untuk ikut menggenjot sektor pariwisata, mengingat potensinya yang sangat besar namun masih belum tergarap maksimal.
Dari kabin pesawat asing hingga ruang rapat di kawasan Istana Presiden, dari logistik halal di Timur Tengah hingga pasar Australia dan Selandia Baru, lulusan Usaha Perjalanan Wisata dari SMK Pariwisata dan Akademi Pariwisata manapun menunjukkan bahwa cakupan karier mereka bisa jauh lebih luas dari yang dibayangkan. Dengan kurikulum yang terus diperbarui dan jaringan alumni yang kuat, program studi ini menjadi salah satu pintu masuk bagi generasi muda untuk tidak hanya bekerja, tetapi juga berkontribusi pada pergerakan ekonomi nasional dan global.
Bagikan