Mengintip Keseruan Pesantren Ramadan di SLBN Karanganyar

26 April, 2022 15:25 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Bunga NurSY

IMG20220426085956.jpg
Siswa SMPLB Negeri Karanganyar berfoto bersama di depan Masjid Agung Madaniyah Karangayar setelah kegiatan muraja'ah dalam rangka Pesantren Ramadan, Selasa (26/4/2022). (Eduwara/K.Setia Widodo)

Eduwara.com, KARANGANYAR – Bulan Ramadan tidak menjadi halangan untuk tetap berkegiatan, seperti siswa-siswa Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Karanganyar yang mengikuti kegiatan Pesantren Ramadan pada Senin—Rabu (25—27/4/2022).

Kepala SLBN Karanganyar Farida Yuliati mengatakan Pesantren Ramadan merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Untuk tahun ini Pesantren Ramadan dilaksanakan mendekati hari lebaran karena bertepatan setelah ujian sekolah.

"Karena kemarin bertepatan dengan ujian, pelaksanaan kami lakukan di akhir bulan Ramadan. Tahun ini diselenggarakan selama tiga hari dengan dibagi menjadi tiga kelompok. Kemarin untuk jenjang SMALB, hari ini untuk SMPLB, dan besok untuk SDLB," kata dia ketika diwawancarai Eduwara.com, Selasa (26/4/2022) di ruang kantornya.

Pembagian tersebut, sambung dia, mengingat banyaknya jumlah murid dan kondisi musala sekolahan yang kurang representatif. Untuk tidak mengganggu jenjang yang lain, maka pelaksanaan Pesantren Ramadan diawali di Masjid Agung Madaniyah Karanganyar yang sekaligus sebagai pengenalan lingkungan kepada siswa.

Menurut Farida, Pesantren Ramadan bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan siswa dan menumbuhkan interaksi yang baik antara siswa maupun guru. Mengingat selama ini interaksi yang terjadi kurang begitu baik akibat pembelajaran tatap muka yang masih terbatas.

Pelaksanaan Pesantren Ramadan diikuti seluruh siswa di setiap jenjangnya, bagi siswa nonmuslim juga tetap diberi kegiatan namun tidak bersamaan dengan siswa muslim.

"Kemarin saya sampaikan kepada guru agamanya, untuk anak-anak yang nonmuslim tetap masuk dan diberi kegiatan. Jadi ketika siswa muslim sedang salat dhuha misalnya, siswa nonmuslim dikumpulkan dalam satu kelas dan ada kegiatan doa," jelas dia.

Salah seorang pembimbing, Sutana menjelaskan Pesantren Ramadan diawali dengan salat dhuha, dilanjutkan muraja'ah berupa hafalan surah-surah pendek Alquran. Kemudian ada pembinaan keagamaan dan diakhiri pembagian fitrah.

Sebelum melaksanakan salat dhuha, semua siswa berwudu terlebih dahulu. Kemudian diberi penjelasan terkait manfaat dan pelaksanaan salat dhuha.

"Tidak hanya pelaksanaan salat dhuha, namun mengenai tujuan, manfaat, kemudian bacaan dan zikir setelah salat juga kami terangkan. Misalnya anak-anak kan belum tahu pemakaian tasbih kecil maupun jari tangan itu apa. Lantas kami jelaskan sebenarnya yang diucapkan adalah zikir kepada Allah SWT. Konsep penjelasan-penjelasan ini juga kami sampaikan di hari sebelumnya," jelas dia ketika diwawancarai Eduwara.com di sela-sela kegiatan.

Pantauan Eduwara.com, pelaksanaan muraja'ah dibagi menjadi dua kelompok, yakni siswa dan siswi. Masing-masing kelompok dibimbing satu guru untuk bersama-sama melantunkan halfalan surah-surah pendek Alquran. Siswa diberi kesempatan untuk melantunkan hafalan surah-surah pendek tersebut. 

Lebih lanjut, pukul 09.15—10.00 WIB dilanjutkan pembinaan keagamaan di musala sekolahan. Materi dan pembicara pun berbeda-beda, misalnya hari Selasa, (26/4/2022) materi disampaikan oleh salah seorang pembimbing yang lain yakni Suwarta mengenai membentuk pribadi mandiri yang berakhlakul karimah, berkualitas dalam iman dan takwa.

Stimulus Baik Bagi Siswa

Di sisi lain, guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam SLBN Karanganyar Hari Yunia Setiawati mengatakan kegiatan yang dilakukan bisa memberi stimulus yang baik bagi siswa.

"Misalnya dengan salat dhuha, diharapkan anak-anak terbiasa melakukannya di kehidupan sehari-hari. Kemudian kegiatan muraja'ah bisa menjadi monitoring hafalan surah-surah pendek mereka, serta pembinaan keagamaan bisa memotivasi mereka terkait kegiatan keagamaan," jelas dia.

Sementara itu, guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang lain, Nurul Hidayah menambahkan, kegiatan Pesantren Ramadan sebenarnya cenderung mengenalkan kepada siswa terkait ibadah.

"Misalnya ada beberapa yang mungkin belum tahu mengenai salat dhuha, waktu pelaksanaannya, dan hukumnya. Untuk muraja'ah, anak-anak belum bisa membaca khususnya mengaji. Sehingga hanya mengikuti, namun ada beberapa yang sudah bisa," tutur dia.

Menurut Nurul, Pesantren Ramadan tersebut bisa meningkatkan kedisiplinan siswa dalam beribadah baik gerakan saat ibadah maupun kedisiplinan waktu. (K. Setia Widodo)