Kampus
04 September, 2026 20:27 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Dalam kegiatan bertajuk ‘Kali Code Berdaya’, Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengajak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dan Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta berkolaborasi menjaga kelestarian lingkungan dan pengelolaan sungai Code secara berkelanjutan. Aksi kolaborasi ini berlangsung pada Jumat (4/9/2026), dimulai dengan susur dan bersih-bersih kawasan pinggiran sungai Code.
UGM melihat kerja sama tersebut dibentuk untuk memperkuat dan menjaga keberlanjutan sungai Code. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi upaya untuk mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, organisasi profesi, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sungai.
Dekan Sekolah Volasi SV UGM, Agus Maryono, menekankan pentingnya menjaga sungai dari sampah dan limbah serta memastikan vegetasi di sepanjang bantaran tetap terpelihara. Susur sungai, menurut Agus, perlu dilakukan secara berkala untuk mengenali potensi bahaya yang dapat muncul di sepanjang aliran sungai, seperti tebing yang rawan longsor atau material yang berpotensi menghambat aliran air.
Langkah tersebut dinilai penting sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana sekaligus menjaga kelancaran aliran sungai dari hulu hingga hilir.
“Susur sungai secara berkala dari bagian hilir menuju hulu dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk memantau kondisi sungai,” paparnya.
Selain aspek mitigasi, Agus melihat sungai Code memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ruang wisata yang ramah lingkungan sekaligus sarana edukasi masyarakat. Keindahan kawasan sungai, apabila dikelola dengan baik, dinilai dapat memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa mengabaikan fungsi ekologisnya.
Agus menambahkan, pengembangan kawasan wisata berbasis sungai dapat dilakukan dengan melibatkan komunitas di sepanjang aliran sungai Code. Setiap komunitas dapat memiliki ruang yang dikelola sebagai destinasi wisata berbasis lingkungan sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga sungai.
Ruang Ekologis, Sosial dan Kultural
Perspektif mengenai pentingnya melihat sungai Code secara menyeluruh juga disampaikan pemerhati sungai Code sekaligus Dosen S3 Religious Studies UGM, Dicky Sofjan, yang melihat pemahaman atas sungai Code tidak dapat dilepaskan dari ekosistem yang lebih luas, mulai dari kawasan hulu hingga hilir.
“Tidak ada satu pun permasalahan kemanusiaan itu yang bisa diselesaikan oleh satu bidang ilmu. Tidak ada satu pun, termasuk masalah lingkungan hidup, termasuk masalah manajemen kali. Artinya, kita butuh kolaborasi, kita butuh sintesis dari beragam pendekatan keilmuan dan disiplin itu untuk membantu merekonstruksi sosial ini,” ujarnya.
Dicky juga menyoroti pentingnya melihat hubungan antara lingkungan fisik dan kehidupan sosial masyarakat yang berada di sekitarnya. Menurutnya, Sungai Code bukan sekadar ruang ekologis, tetapi juga ruang sosial dan kultural yang menyimpan beragam pengetahuan serta praktik kehidupan masyarakat.
“Dunia Kali Code ini adalah dunia yang unik. Dunia yang membutuhkan lebih banyak lagi proses pembelajaran, bukan saja dari segi alam fisikalnya, tetapi juga khususnya dunia sosialnya,” ucapnya.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menilai kolaborasi yang dibangun melalui ‘Kali Code Berdaya’ dapat menjadi ruang untuk memperkuat upaya rekonstruksi sosial masyarakat. UGM, menurut Hasto, telah memberikan inspirasi-inspirasi yang luar biasa untuk melakukan rekonstruksi sosial itu bersama.
“Persoalan sungai tidak dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri, karena sungai tidak mengenal batas administrasi. Air yang mengalir dari satu wilayah akan terus bergerak menuju wilayah berikutnya. Apa yang terjadi di bagian atas atau hulu akan memberikan pengaruh kepada masyarakat yang berada di bagian bawah atau hilir,” jelasnya.
Sungai Code merupakan salah satu sungai yang menghubungkan wilayah Kabupaten Sleman dengan Kota Yogyakarta. Karena itu, upaya menjaga kebersihan, kualitas lingkungan, sempadan, serta keberlanjutan Sungai Code membutuhkan kolaborasi lintas wilayah.
Hasto menilai upaya menjaga sungai juga tidak cukup dilakukan melalui kegiatan bersih-bersih ketika kondisi sungai sudah kotor. Hal yang lebih penting adalah membangun kesadaran masyarakat agar sungai tidak menjadi tempat berakhirnya berbagai persoalan lingkungan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sleman, Abu Bakar mengatakan, Pemkab Sleman siap bekerja sama dengan Pemkot Yogyakarta dalam menjaga kebersihan sungai Code, terutama dengan melakukan penanganan sejak dari kawasan hulu.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah pemasangan trash barrier atau penghalang sampah di sejumlah titik kawasan hulu. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menyaring sampah yang terbawa aliran sungai sehingga tidak terus bergerak menuju wilayah Kota Yogyakarta.
"Rencana pemasangan trash barrier akan diarahkan di kawasan hulu, di antaranya wilayah Kecamatan Pakem dan Kecamatan Ngaglik," jelasnya.
Pemasangan penghalang sampah tersebut, sampah yang terbawa aliran Sungai Code diharapkan dapat tertahan dan lebih mudah diangkat serta dikelola sebelum masuk ke wilayah Kota Yogyakarta.
Bagikan