logo

Kampus

Pendidikan Kewarganegaraan Emban Misi Literasi Kewarganegaraan

Pendidikan Kewarganegaraan Emban Misi Literasi Kewarganegaraan
Prof Dr Mukhamad Murdiono MPd menyampaikan pidato berjudul ‘Strategi Pembelajaran Transformatif untuk Penguatan Literasi Kewarganegaraan’ dalam pengukuhannya sebagai guru besar dalam bidang Strategi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). (EDUWARA/Humas UNY)
Redaksi, Kampus06 Januari, 2022 18:51 WIB

Eduwara.com, JOGJA -- Pendidikan kewarganegaraan memiliki peran dan tanggungjawab dalam penguatan literasi kewarganegaraan. Salah satu alternatif yang dapat dikembangkan guru dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk penguatan literasi kewarganegaraan adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran transformatif.

Demikian dikatakan Mukhamad Murdiono dalam pengukuhannya sebagai guru besar dalam Bidang Strategi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta, belum lama ini.

Dalam pidato pengukuhan berjudul ‘Strategi Pembelajaran Transformatif untuk Penguatan Literasi Kewarganegaraan’, Mukhamad Murdiono memaparkan bahwa strategi pembelajaran ini akan membelajarkan peserta didik untuk lebih dekat dengan kenyataan, menghadirkan pengetahuan yang kritis-reflektif dengan memosisikan guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran.

“Untuk menerapkan strategi pembelajaran transformatif dibutuhkan seorang guru yang bertindak sebagai perancang pendidikan, karena mereka akan berhadapan dengan peserta didik yang tumbuh di era abad ke-21 dengan karakteristik yang khusus dan unik,” kata Mukhamad Murdiono, dalam rilis yang dikirimkan ke Redaksi Eduwara.com, Kamis (06/01/2022).

Menurut Mukhamad Murdiono, pendidikan kewarganegaraan tidak sebatas mempelajarai hak dan kewajiban warga negara, melainkan lebih luas dan mendalam termasuk mempersiapkan warga negara menjadi warga global.

Pendidikan kewarganegaraan membekali peserta didik di sekolah dengan pengetahuan tentang isu-isu global, budaya, lembaga dan sistem internasional dan merupakan indikasi dari pendekatan minimalis yang bisa mengambil tempat secara eksklusif di dalam kelas.

Pendidikan kewarganegaraan juga mencerminkan pendekatan maksimal yang bertujuan untuk memastikan peserta didik siap untuk mengambil peran sebagai warga negara global dewasa dan bertanggung jawab.

Karena itu, menurut Mukhamad Murdiono, warga negara harus memiliki keterampilan abad ke-21 agar mampu bersaing baik di tingkat regional maupun global. Keterampilan tersebut adalah kompetensi, literasi dasar, dan karakter. Literasi dasar yang musti dikuasai yaitu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial serta literasi budaya dan kewarganegaraan.

“Untuk mampu bersaing di era abad ke-21, warga negara di dunia harus memiliki keterampilan berpikir kritis (critical thinking skills), kreativitas (creativity), komunikasi (communication), dan kolaborasi (collaboration),” katanya.

Sedangkan untuk memenangkan persaingan pada era global, warga negara harus memiliki karakter yang kuat meliputi iman dan takwa, rasa ingin tahu, inisiatif, kegigihan, kemampuan beradaptasi, kepemimpinan, serta kesadaran sosial dan budaya.

“Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, semakin menegaskan pentingnya penguatan literasi dasar, kompetensi, dan karakter bangsa Indonesia. Berita bohong (hoax) yang sering dijumpai di media sosial dan rentanya ikatan kebhinekaan ditengarai sebagai akibat rapuhnya karakter warga negara, rendahnya kompetensi, dan kurangnya pemahaman literasi warga terutama literasi kewarganegaraan," paparnya.

Read Next