logo

Kampus

Prodi Fotografi ISI Solo Gelar Solo Photo Festival 2022

Prodi Fotografi ISI Solo Gelar Solo Photo Festival 2022
Round Table Discussion dalam rangka Solo Photo Festival (SPF) 2022 oleh Prodi Fotografi ISI Solo, Selasa (1/11/2022). (EDUWARA/Istimewa)
Redaksi, Kampus02 November, 2022 22:56 WIB

Eduwara.com, SOLO – Perkembangan fotografi selaras dengan perkembangan teknologi digital yang semakin mutakhir, contohnya seperti teknik-teknik kreatif melalui digital imaging. Sementara itu, fotografi analog juga kembali bergeliat beberapa tahun terakhir dibuktikan dengan munculnya banyak pekerja fotografi yang ingin mempertahankan esensi dari fotografi itu sendiri.

Semaraknya pewacanaan fotografi memunculkan berbagai macam polemik, kubu, dan pemikiran-pemikiran yang hadir dari beberapa sudut pandang. Oleh karena itu, muncul banyak tafsir serta pemahaman yang tidak seharusnya diperdebatkan dalam fotografi.

Hal itulah yang ingin diakomodir Program Studi (Prodi) Fotografi Institut Seni Indonesia (ISI) Solo melalui event tahunan bertajuk Solo Photo Festival (SPF). 

Berawal dari acara peringatan hari ulang tahun Prodi Fotografi ISI Solo, kini SPF menjadi acara pameran yang menjadi media apresiasi bagi para mahasiswa yang berada dalam sebuah naungan asosiasi perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki prodi Fotografi.

Salah satu rangkaian acara dari SPF 2022 ialah Round Tabel Discussion yang dilaksanakan pada Selasa (1/11/2022). Acara yang berlangsung di Ruang Audio Visual Kampus I ISI Solo tersebut mengangkat tema Arah Pendidikan Tinggi Fotografi di Tengah Laju Deras Kebebasan Aparatus Fotografi.

Dalam siaran pers yang diterima Eduwara.com, Rabu (2/11/2022), dijelaskan bahwa diskusi tersebut diselenggarakan guna membicarakan isu-isu terkini di bidang fotografi. 

Prodi Fotografi ISI Surakarta berkomitmen untuk mengakomodir seluruh gagasan yang disampaikan peserta diskusi guna mengembangkan pendidikan fotografi di tingkat perguruan tinggi khususnya dalam pengembangan kurikulum untuk mengikuti perkembangan dunia digital.

Riset Fotografi Masih Jadi Tantangan

Perwakilan ISI Denpasar, I Made Bayu Purnama menilai hasil karya para mahasiswa maupun pengajar perguruan tinggi Prodi Fotografi tidak kalah dalam kompetisi fotografi di Indonesia. Namun, dari riset-riset fotografi masih menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan fotografi.

“Sebagaian besar riset-riset fotografi Indonesia baik dari periode kolonial hingga modern ditulis oleh bukan orang Indonesia. Saya pikir kita sebagai pengajar termasuk pengelola lembaga pendidikan fotografi dan juga mahasiswa masih kecil sekali prosentasenya menulis riset dan menemukan hal baru tentang fotografi kita,” jelas dia.

Kalaupun ada, sambung dia, rata-rata menduplikasi, mengulang, menjalin kembali hal-hal yang sudah ada. Oleh karena itu, dia memandang perlu adanya sebuah gerakan yang tidak hanya penyelarasan kurikulum, tetapi menjadi gerakan bersama minimal dimulai dari prodi fotografi untuk bersaing di pertarungan global.

Menurut Made, penyelarasan kurikulum dari sisi penguatan riset baik metodologi pengkajian fotografi termasuk penelitian sejarah mengenai fotografi di Indonesia harus menjadi sebuah habitus bersama. Selain itu, perlu juga sebuah gerakan baru yang berangkat dari acara-acara dari masing-masing perguruan tinggi Prodi Fotografi menjadi acara bersama dan lebih besar.

“Dari teman-teman akademisi barangkali perlu kita pikirkan membuat gerakan bersama yang mungkin bisa memberikan ruang. Istilahnya Tri Darma Perguruan Tinggi yakni berkolaborasi melaksanakan penelitian, pengabdian, dan beberapa hal yang bisa diselenggarakan bersama,” terang dia.

Melalui Round Table Discussion diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan solusi agar mahasiswa fotografi siap dalam menghadapi tantangan ketika memasuki dunia industri. 

Selain itu, melalui SPF 2022, Prodi Fotografi ISI Solo berkeinginan agar dunia fotografi di Indonesia dapat mengalami perkembangan, terutama pada era Industri 4.0. Harapannya, bukan hanya menjadi seniman atau pun fotografer, tetapi juga menjadi pekerja kreatif yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan. (K. Setia Widodo/*)

Read Next