41 Persen SD di Kota Yogyakarta Terapkan Kurikulum Merdeka Mandiri Berubah

14 Juli, 2022 21:29 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

14072022-Kepala Disdikpora Kota Yk.jpg
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori . (EDUWARA/Setyono)

Eduwara.com, JOGJA – Dari total 169 Sekolah Dasar (SD) negeri maupun swasta di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 41 persen atau 70 unit sekolah menerapkan Kurikulum Merdeka tipe Mandiri Berubah. Terbanyak lainnya menerapkan Kurikulum Merdeka tipe Mandiri Belajar dan Kurikulum 2013.

Dihubungi Eduwara.com pada Kamis (14/7/2022) sore, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori menyatakan penerapan Kurikulum Merdeka Belajar dimulai awal tahun ajaran baru 2022/2023.

"Implementasi Kurikulum Merdeka di setiap satuan pendidikan, sebagian besar (Sekolah Dasar, red) di Kota Yogyakarta melaksanakan penerapan Kurikulum Merdeka Belajar," kata Budi.

Dalam data yang dikumpulkan pihaknya, diketahui dari total 169 Sekolah Dasar, Budi menyatakan ada beberapa sekolah yang menerapkan tipe berbeda Kurikulum Merdeka Belajar.

"Ada delapan Sekolah Dasar, yang semuanya swasta, yang mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Belajar tipe Sekolah Penggerak. Kemudian ada 65 Sekolah Dasar, yang terdiri dari 50 negeri dan 15 swasta, yang menjalankan tipe Mandiri Belajar," jelas Budi.

Kemudian ada sebanyak 70 Sekolah Dasar, yang meliputi 33 sekolah negeri dan 37 sekolah swasta, yang mengimplementasikan tipe Mandiri Berubah. Lalu ada enam Sekolah Dasar, tiga sekolah negeri dan tiga swasta yang menerapkan tipe Mandiri Berbagi.

Terakhir ada 20 sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013, di mana jumlah ini terdiri dari enam Sekolah Dasar negeri, 10 Sekolah Dasar swasta dan empat Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Budi mengatakan jika dilihat dari sisi persentase, sebanyak 41 persen yang menerapkan tipe Mandiri Berubah, kemudian 38 persen Mandiri Belajar, dan 12 persen Kurikulum 2013. Kemudian, Sekolah Penggerak sebanyak 5 persen dan terakhir Mandiri Berbagi dengan jumlah 4 persen.

Semua sekolah yang telah menetapkan pengimplementasian kurikulum untuk tahun ajaran baru tahun ini, sebut Budi, juga melaksanakan kegiatan literasi dan numerasi agar anak bisa terus berkembang.

"Kita berharap semua sekolah memenuhi standar atau bahkan di atas standar. Yogyakarta memiliki kekhasan tersendiri karena memiliki aset kearifan lokal. Saya berharap di tempat lain di seluruh Indonesia untuk tidak melupakan budaya lokal sebagai aset tak ternilai," pesannya.

Pada tahun ini, Budi menyatakan pihaknya berharap sekolah bisa menerapkan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KSOP) hingga mencapai 100 persen dan menciptakan karakter profil Pelajar Pancasila.