Di RPOM Summit 2026, 47 Pemuda Diajak Mengenali Potensi Pangan Lokal

05 November, 2026 01:31 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

04112026-Pangan Lokal.jpg
Sebanyak 47 pemuda dari berbagai daerah di Indonesia yang mengikuti RPOM Summit 2026 diajak berkunjung ke Dusun Ngampo, Desa Pancarejo, Semanu, Gunungkidul. Mereka diajak belajar langsung bersama masyarakat desa, mengenali potensi pangan lokal, memahami kearifan masyarakat, dan melihat bagaimana semangat gotong royong dapat menjadi kekuatan dalam membangun kemandirian pangan. (EDUWARA/Dok. FOI)

Eduwara.com, JOGJA - Mengusung semangat Sumpah Pemoeda 1928, sebanyak 47 anak muda dari berbagai daerah di Indonesia, melalui sebuah gerakan yang diinisiasi Foodbank of Indonesia (FOI), Tik Tok dan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM), mengikrarkan semangat persatuan menjaga sumber daya pangan dan masa depan bangsa.

Dalam ikrar tersebut, para peserta menyatakan komitmen untuk menjaga kekayaan sumber daya pangan Indonesia, melestarikan benih lokal dan keanekaragaman hayati, menghidupkan pengetahuan serta budaya pangan Nusantara, memperkuat gotong royong dan solidaritas pangan, serta memperjuangkan sistem pangan yang adil dan berkelanjutan.

Ikrar ini merupakan hasil dari kegiatan Rembug Pangan Orang Muda (RPOM) Summit 2026 yang berlangsung sejak Sabtu (31/10/2026) sampai Minggu (1/11/2026). Rembug pangan ini mempertemukan orang muda dengan akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk mendiskusikan tantangan sistem pangan Indonesia serta peran generasi muda dalam membangun perubahan.

Ketua Yayasan Lumbung Pangan Indonesia selaku panitia acara, Wida Septarina Wijayanti, mengatakan 47 anak muda tersebut berasal dari berbagai wilayah mulai Sumatera, Sulawesi, Jawa hingga NTT.

"Perjalanan panjang menggunakan kapal laut yang disambung dengan pesawat tidak menyurutkan semangat seorang peserta untuk hadir di Yogyakarta. Mereka berkumpul dengan satu perhatian yang sama: masa depan pangan Indonesia," kata Wida, Selasa (3/11/2026).

Berangkat dari berbagai latar belakang dan wilayah, mulai dari mahasiswa, aktivis sosial, dan komunitas, generasi muda ini diajak berkunjung ke Dusun Ngampo, Desa Pancarejo, Semanu, Gunungkidul. Mereka diajak belajar langsung bersama masyarakat desa, mengenali potensi pangan lokal, memahami kearifan masyarakat, dan melihat bagaimana semangat gotong royong dapat menjadi kekuatan dalam membangun kemandirian pangan.

Wida menyebut momentum Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pangan menjadi semangat RPOM Summit 2026 membawa pemuda mengenali tantangan zaman, bagaimana memastikan Indonesia memiliki kedaulatan atas pangan dan mampu memenuhi kebutuhan pangan seluruh rakyatnya.

“Peserta kami ajak mengenal paradigma, pangan bukan semata-mata persoalan produksi dan distribusi, pangan berkaitan dengan identitas bangsa, kekayaan alam, budaya, keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan petani, serta hak setiap orang untuk memperoleh pangan yang cukup, bergizi dan layak,” jelasnya.

Perjuangan Pangan

Pendiri Foodbank of Indonesia (FOI), Hendro Utomo, menerangkan melalui perjumpaan dengan warga, para peserta diajak memahami pentingnya menghargai pengetahuan lokal dan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam menjaga keberlanjutan sumber daya pangan mereka.

Pengalaman ini memperluas pemahaman bahwa desa bukan sekadar penerima program pembangunan, melainkan ruang hidup yang memiliki pengetahuan, potensi, dan kekuatan untuk membangun masa depan pangannya sendiri.

“Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi dan perubahan tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Justru, pengetahuan lokal dapat menjadi sumber inspirasi untuk menjawab tantangan sistem pangan masa kini,” paparnya.

Hendro menegaskan perjuangan pangan pada akhirnya harus memastikan setiap orang memiliki akses terhadap pangan yang cukup, bergizi, dan layak. Ketersediaan pangan harus berjalan seiring dengan pemerataan akses, kepedulian sosial, serta pengelolaan sumber daya pangan yang adil dan berkelanjutan.

Wakil Dekan FTP UGM, Sri Rahayoe, menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memperkuat gerakan pangan melalui ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan kolaborasi dengan masyarakat.

"Kedaulatan pangan merupakan tantangan sekaligus tanggung jawab bersama. Generasi muda memiliki peran penting untuk menghadirkan gagasan, inovasi, dan aksi nyata dalam menjawab berbagai persoalan pangan,” katanya.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan gerakan orang muda menjadi semakin penting untuk menjembatani pengetahuan akademik dengan praktik dan kearifan yang hidup di tengah masyarakat.

RPOM Summit 2026 menjadi bagian dari perjalanan panjang gerakan pangan yang dibangun FOI, organisasi sosial dibawah naungan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia. Didirikan Mei 2015, FOI tumbuh menjadi gerakan bank pangan pertama di Indonesia yang kini memiliki operasi di 90 kota dan kabupaten dengan dukungan lebih dari 8.000 relawan.

Melalui RPOM, lanjut Sri Rahayoe, pihaknya ingin mempertemukan orang-orang muda dari berbagai wilayah Indonesia agar mereka tidak berjalan sendiri-sendiri. Mereka dapat saling belajar, berbagi pengalaman, membangun jejaring dan solidaritas, serta bersama-sama menghidupkan kembali kekuatan lumbung pangan di komunitasnya.

“Bukan hanya untuk memperluas kepedulian terhadap persoalan akses pangan, tetapi juga untuk membangun kesadaran bahwa kedaulatan pangan harus tumbuh dari kekuatan masyarakat, keberagaman sumber daya lokal, dan solidaritas antarkomunitas,” paparnya.