Haedar Nashir: Pendidikan Indonesia tak Punya Roadmap Strategi Jangka Panjang

06 Juli, 2026 02:55 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

06072026-Haedhar - Pendidikan tak berorientasi kapital.jpg
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. (EDUWARA/K. Setyono)

Eduwara.com, JOGJA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan pemerintah serta pemangku kepentingan untuk segera mengembalikan ruh pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Dunia pendidikan saat ini cenderung berorientasi pada nilai ekonomi, kapital hingga kekuasaan.

Hal tersebut disampaikan Haedar Nashir usai meresmikan gedung Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) yang dibangun di kecamatan Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu (5/7/2026).

“Kecenderungan pemangku kepentingan pendidikan saat ini menetapkan konsep pendidikan pada kepentingan kekuasaan, terlebih lagi kepentingan ekonomi. Salah dan keliru kalau kita menempatkan pendidikan pada kepentingan-kepentingan,” ujarnya.

Haedar menegaskan pengabdian di bidang pendidikan merupakan tanggung jawab besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang memiliki tantangan semakin kompleks. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan reorientasi cara pandang terhadap pendidikan di Indonesia.

"Di sinilah siapa pun yang mendapat amanah, dari pusat sampai bawah, harus memahami bahwa ini soal responsibility dalam hal mencerdaskan bangsa," katanya.

Haedar mengatakan Muhammadiyah telah berkontribusi di bidang pendidikan selama lebih dari satu abad melalui pengabdian dalam mendidik anak-anak bangsa, khususnya dari kalangan keluarga menengah ke bawah. Baginya, hal itu merupakan pengabdian yang luar biasa, apalagi sebelum kemerdekaan dan ketika pemerintah belum hadir.

Tantangan Besar

Namun, menurut Haedar, saat ini dunia pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan besar karena setiap pergantian rezim sering kali menyebabkan arah pembangunan pendidikan jangka panjang terputus dan kembali dimulai dari awal.

Kondisi ini menyebabkan Indonesia tidak punya roadmap tentang bagaimana strategi jangka panjang mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai goals dari pendidikan.

“Akibatnya, kebijakan yang muncul pada setiap pergantian periode pemerintahan cenderung bersifat praktis dan jangka pendek. Itu memang penting, tetapi tidak berjangka panjang," katanya.

Meski demikian, Haedar menilai saat ini Indonesia telah memiliki arah pembangunan pendidikan jangka panjang melalui visi Pendidikan Emas 2045. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan strategi berupa reaktualisasi, revitalisasi, reformasi, hingga transformasi pendidikan.