Lumpur Sidoarjo Berpotensi Mengandung Lithium, Begini Kata Pakar dari ITS

02 Februari, 2022 06:02 WIB

Penulis:Bunga NurSY

Editor:Bunga NurSY

lumpur lapindo.jpeg
Lumpur Lapindo mengandung Rare Earth yang menjadi salah satu bahan mobil listrik. (istimewa)

Eduwara.com, SURABAYA—Luapan lumpur di daerah Sidoarjo, Jawa Timur, yang mengandung lithium dinilai potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku industri baterai.

Peneliti senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Amien Widodo mengatakan, lithium adalah salah satu Critical Raw Materials (CRMs) atau material kritis. Material ini sulit didapatkan dan tidak memiliki pengganti, tetapi memiliki manfaat yang besar.

Sementara itu, Amien menyebutkan, salah satu kebijakan pemerintah dalam pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan adalah percepatan produksi kendaraan listrik. Produksi massal baterai pun harus dilakukan.

Sayangnya, meskipun Indonesia memiliki 25 persen cadangan nikel dunia sebagai bahan baku pembuatan baterai, produksi baterai juga membutuhkan lithium yang sampai saat ini masih belum ditemukan lokasi penambangan yang menjanjikan. 

“Penemuan potensi kandungan lithium di lumpur Sidoarjo adalah kabar baik. Tentunya sangat luar biasa jika kita bisa memanfaatkannya,” ujar Amien, seperti dikutip dari situs resmi ITS, Senin (31/01/2022).

Amien memaparkan, sebelumnya Pusat Studi Kebumian dan Bencana (sekarang Puslit MKPI) ITS telah melakukan kajian kandungan lithium yang ada dalam air lumpur Sidoarjo sejak 2016. 

Kajian ini dilakukan dengan adsorbsi lithium dari lumpur Sidoarjo menggunakan adsorben berbasis Lithium Mangan Oksida (LMO). Adsorben ini memiliki struktur kristal spinel yang mampu menyerap lithium. Hasil kajian ini menunjukkan kandungan lithium dengan kadar sebesar 7 hingga 15 bagian per juta.

Penelitian serupa juga dilakukan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2020 menggunakan teknik Inductively Coupled Plasma – Optical Emission Spectrometry (ICP-OES). Teknik analisis ini digunakan untuk menentukan komposisi unsur dari berbagai logam.

Hasilnya, didapatkan lithium dengan kadar 99,26 sampai dengan 280,46 bagian per juta dan stronsium dengan kadar 255,44 sampai dengan 650,49 bagian per juta. 

“Memang terlihat perbedaan signifikan di antara keduanya. Itu karena kami mengambil sampel berupa air lumpur, sedangkan Badan Geologi melakukan penelitian pada lumpurnya,” jelasnya.

Dia melanjutkan bahwa data yang ada saat ini masih merupakan hasil penelitian awal dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Amien juga mengungkapkan harapannya agar pihak ITS turut dilibatkan oleh Badan Geologi maupun pemerintah . 

“Dengan begitu kami dapat belajar banyak mengenai cara eksplorasi dan eksploitasi logam tanah jarang dan material kritis,” pungkasnya.