Sekolah Kita
13 Juli, 2026 18:20 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA- Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diminta menjadi ruang adaptasi yang aman dan menyenangkan bagi peserta didik baru, sejak hari pertama masuk sekolah. Hilangnya kekhawatiran, hadirnya rasa aman dan percaya diri peserta didik baru menjadi penanda sukses pelaksanaan MPLS.
Harapan ini disampaikan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, saat memberikan pesan kepada seluruh kepala sekolah mulai SD, SMP sampai SMA yang menggelar hari pertama MPLS Tahun Ajaran 2026/2027, Senin (13/7/2026).
“Setiap siswa membawa harapan sekaligus kekhawatiran yang berbeda sehingga sekolah perlu memahami kondisi tersebut sejak awal agar pendampingan yang diberikan sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik,” ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, Hasto meminta pelaksanaan MPLS berlangsung ramah dan mampu membantu siswa baru menghilangkan rasa cemas saat memasuki lingkungan pendidikan yang baru.
Para guru maupun panitia MPLS, menurut Hasto, perlu menggali berbagai hal yang menjadi harapan serta kecemasan siswa baru, bukan justru menjadikan kegiatan orientasi sebagai ajang perpeloncoan atau perundungan. Keberhasilan MPLS tidak diukur dari kerasnya orientasi, melainkan dari kemampuan sekolah membuat peserta didik merasa aman dan percaya diri.
Dalam pesannya, Hasto menegaskan fungsi utama MPLS adalah menjadi sarana ice breaking agar siswa baru lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah, mengenal guru, teman, maupun budaya belajar yang akan dijalani selama menempuh pendidikan.
"Kalau 80 persen sampai 90 persen kekhawatiran mereka sudah hilang, berarti MPLS itu sukses. Tujuannya memang untuk menghancurkan kekhawatiran dan menumbuhkan harapan," ujarnya.
Kualitas
Hasto juga mengingatkan penambahan rombongan belajar (rombel) di sejumlah SMP negeri harus diikuti dengan penguatan kualitas layanan pendidikan. Kebutuhan guru, ruang kelas, dan sarana pendukung harus disiapkan, seiring bertambahnya kapasitas sekolah agar proses belajar mengajar tetap berjalan optimal.
"Rombel ditambah, guru juga harus disiapkan, kalau kurang ya ditambah. Ruangan juga harus ditambah. Yang paling penting jangan sampai setelah rombel bertambah kualitas sekolah justru menurun," katanya.
Menurut Hasto, penambahan rombongan belajar dilakukan sebagai respons atas tingginya minat masyarakat terhadap SMP negeri di Kota Jogja. Namun, peningkatan daya tampung tersebut harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas layanan pendidikan sehingga siswa tetap memperoleh proses pembelajaran yang optimal sejak hari pertama masuk sekolah.
Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul, Nugroho Eko Setyanto, menerangkan pelaksanaan MPLS di Kabupaten Bantul, diselenggarakan oleh 501 Taman Kanak-kanak (TK), 402 SD/MI, 144 SMP/MTs, 37 SMA/MA, dan 49 SMK.
“MPLS di Bantul mengusung konsep ramah dan bebas dari perpeloncoan maupun perundungan. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang adaptasi yang aman dan menyenangkan bagi peserta didik baru sejak hari pertama masuk sekolah,” terangnya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul telah memastikan bahwa pelaksanaan harus berjalan optimal karena MPLS merupakan tahapan penting bagi peserta didik untuk mengenal lingkungan sekolah sekaligus membangun rasa aman, nyaman, dan bahagia dalam memulai proses belajar.
Sementara itu, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih bersama Wakil Bupati Bantul menyapa peserta didik baru dari berbagai jenjang pendidikan, mulai TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA hingga SMK secara online.
Halim mengajak seluruh peserta didik mengikuti seluruh rangkaian MPLS dengan baik sebagai bekal memasuki lingkungan sekolah yang baru. Ia juga mengingatkan pentingnya menghormati orang tua dan guru selama menjalani proses pendidikan.
Halim berharap pelaksanaan MPLS yang ramah dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, aman, dan mendukung tumbuhnya karakter positif peserta didik sejak awal memasuki jenjang pendidikan yang baru.
Bagikan