Rayakan Ketetapan UNESCO Soal Gamelan, Grup Artaxiad Gelar “Gamelan Camp”

23 Januari, 2022 05:30 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Riyanta

2201tbjt gamelanA.jpg
Penampilan komunitas Hangsun Gandrung dalam acara Artaxiad Gamelan Camp, Jumat (21/1/2022) yang dilaksanakan oleh Artaxiad Gamelan Syndicate di Galeri Taman Budaya Jawa Tengah. (Eduwara.com/K. Setia Widodo)

Eduwara.com, SOLO—Grup Artaxiad Gamelan Syndicate mengadakan Artaxiad Gamelam Camp, Jumat-Minggu (21-23/1/2022). Acara itu dilaksanakan di Lobi Galeri Taman Budaya Jawa Tengah dan Bumi Perkemahan Pleseran, Nglurah, Tawangmangu.

Acara itu bertema Mempelajari Gamelan di Masa Lalu, Mengolah Gamelan di Masa Kini, dan Berpikir Membawa Gamelan ke Masa Depan. Menurut Komposer Artaxiad, Gregorian Christ Mahendra, acara itu sengaja dilaksanakan bertepatan dengan 40 hari gamelan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO.

"Tujuan inti tetap merayakan penetapan gamelan oleh UNESCO. Sebenarnya di lingkungan kampus juga merayakan hal itu. Namun saya rasa kok terlalu eksklusif. Sementara itu, ada pergerakan gamelan di luar kampus maupun keraton seperti Artaxiad ini," kata dia ketika diwawancarai Eduwara.com, Jumat (21/1/2022) di sela-sela acara.

Acara dimulai dengan penampilan Artaxiad Gamelan Syndicate. Kemudian dilanjutkan tiga sesi diskusi oleh Rendra Agusta, Joko Daryanto, dan Dedek Wahyudi. Ketika pergantian sesi ada penampilan dari komunitas gamelan Swara Gangsa dan Hangsun Gandrung.

"Di akhir acara hari pertama akan ada jamming gamelan. Kami ingin mencoba bermain gamelan dengan spontan. Peserta dibebaskan memilih instrumen yang diinginkan," ujar Grego.

Grego menyebutkan peserta yang mengikuti acara di hari pertama berjumlah 37 orang. Sedangkan yang mengikuti sampai hari ketiga yaitu 12 orang.

Lestarikan Gamelan

Grego menambahkan sasaran acara adalah anak muda. Bukan tanpa sebab, upaya melestarikan gamelan memang seharusnya dimulai dari generasi muda. Hal itu menjadi salah satu bentuk tanggung jawab dia.

Menurutnya, anak muda zaman sekarang kurang mencintai gamelan, bahkan tidak mengenalnya. Salah satu indikasi hal tersebut yakni siswa ataupun mahasiswa jurusan karawitan selalu bertambah tanpa disertai pengenalan kepada masyarakat.

"Siswa ataupun mahasiswa jurusan karawitan setiap tahun selalu bertambah. Tapi hal itu kan di dalam lingkup sekolah atau kampus. Ketika 30 meter dari luar kampus, ada orang jualan dan punya anak, ditanya bonang itu yang mana jawabnya tidak tahu. Ngeri hlo itu," jelas dia.

Dia merasa senang karena peserta yang mengikuti acara tersebut mayoritas berasal dari luar lingkup kampus maupun sekolah kesenian. Kemudian acara-acara seperti itu, menurutnya, lebih penting daripada sekadar selebrasi.

Di sisi lain, salah seorang pengisi pertunjukan, Merak Badra Waharuyung mengatakan diskusi dalam acara itu sudah setingkat diskusi mahasiswa.

"Walaupun masih ada yang sekolah namun sudah mendapatkan pengetahuan setingkat mahasiswa. Pengetahuan mengenai gamelan memang sangat diperlukan," kata dia yang juga ketua komunitas Hangsun Gandrung itu.

Dia berharap, semua orang bisa hidup berdampingan dengan gamelan. Misalnya rapat di balai desa atau RT ada gamelan yang dimainkan oleh masyarakat setempat. (K. Setia Widodo)