UMY Kembangkan Pertanian Terapung di Kalimantan Timur

04 Januari, 2023 15:36 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Bunga NurSY

image (62).png
UMY Kembangkan Pertanian Terapung di Kalimantan Timur (UMY Kembangkan Pertanian Terapung di Kalimantan Timur)

Eduwara.com, JOGJA – Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan metode penanaman padi teknologi apung di Kalimantan Timur.

"Teknologi ini kami terapkan di desa Muhuran, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara dan Desa Minta, Kutai Barat, Kalimantan Timur," kata Ketua LPM UMY Gatot Supangkat, Rabu (4/1/2023).

Konsep pertanian terapung ini ditawarkan ke masyarakat desa Minta dan desa Muhuran karena mereka seringkali mengalami gagal panen sehingga produksi padi dan beras tidak optimal.

Gatot menyatakan seringnya gagal panen maupun produksi padi tidak optimal karena warga memanfaatkan area rawa-rawa yang surut sebagai media tanam padi. "Namun, lahan ini sering kali mendapat luapan air sungai Mahakam, akibatnya padi terpendam air yang mengakibatkan gagal panen," paparnya.

Dengan menerapkan sistem padi terapung ini, budi daya pada lahan rawan banjir dan rawa tidak akan berpengaruh pada perubahan iklim terutama faktor intensitas hujan. Iklim sampai saat ini berpengaruh terhadap pola tanam, waktu tanam, produksi, dan kualitas hasil.

"Intensitas hujan yang tinggi dan tidak menentu mengakibatkan kondisi lahan pertanian mengalami banjir atau tergenang air. Teknologi ini sangat cocok dikembangkan di lokasi lahan rawan banjir atau rawa," lanjutnya.

Yang kami manfaatkan sebagai lahan pertanian di sini adalah lahan gambut. Lahan gambut ini sangat bermanfaat bagi pertanian. Namun, apabila lahan ini tidak dikelola dengan baik hal ini akan berakibat buruk bagi lingkungan dan juga iklim," terangnya.

Lebih lanjut Gunawan menjelaskan jika lahan gambut mampu menampung hingga 30 persen jumlah karbon dunia agar tidak terlepas ke atmosfer.  Jika karbon ini terlepas maka hal ini akan mengakibatkan perubahan iklim dan bencana alam. Hal ini juga menjadi alasan tidak bisa sembarangan dalam mengolah lahan gambut.

Gatot menjelaskan keberadaan lahan gambut sebenarnya sangat bermanfaat bagi pertanian apabila dikelola dengan baik. Lahan gambut menampung hingga 30 persen jumlah karbon dunia agar tidak terlepas ke atmosfer.

Jika karbon ini terlepas maka hal ini akan mengakibatkan perubahan iklim dan bencana alam. Hal ini juga menjadi alasan tidak bisa sembarangan dalam mengolah lahan gambut.

Diharapkan dengan memanfaatkan konsep pertanian terapung akan menjadi solusi mengatasi dan memanfaatkan kondisi lahan rawan banjir dan rawa secara optimal. Dalam penerapannya, Gatot memastikan pihaknya 100 persen menggunakan sumber daya lokal.

Rektor UMY Gunawan Budiyanto menyatakan apa yang tengah dilakukan LPM merupakan impelementasi program SDGs dalam menuntaskan kelaparan (zero hunger). "Dengan adanya pemanfaatan lahan ini sebagai media tanam padi, besar harapannya ini mempunyai kontribusi terhadapat program SDGs dalam menuntaskan kelaparan," sambungnya.

Gunawan berharap, dalam proyek selanjutnya yang akan dilaksanakan di kota Pekalongan, LPM diminta memiliki solusi yang sama terhadap permasalahan  pada panen padi.

 

Tags:UMY