Teater Wejang Tampilkan “Konglomerat Burisrawa,” Apa Isi Ceritanya?

14 Januari, 2022 16:20 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Riyanta

1401burisrawa2a.jpg
Pentas Produksi ke-50 Teater Wejang dengan judul Konglomerat Burisrawa saat pengambilan video, Selasa (21/12/2021) di Hall Gedung C FKIP UMS. (Eduwara.com/Dok. Istimewa Teater Wejang)

Eduwara.com, SUKOHARJO–Alunan musik mengiringi munculnya beberapa figur tokoh wayang di panggung. Sorot lampu menciptakan bayangan wayang di kelir. Tampak beberapa gunungan dan satu wayang kulit kesatria namun bermuka raksasa, Burisrawa. Di tengah gunungan klowong, Burisrawa menari-nari dan sesekali terlihat tertawa.

Untaian kain putih terpasang di langit-langit ruang. Kain itu tersorot lampu berwarna-warni yang menambah keindahan panggung. Penataan artistik pertunjukan itu bisa dibilang minimalis namun terasa padat.

Demikian suasana pembukaan adegan Pentas Produksi ke-50 UKM Teater Wejang FKIP UMS yang digelar, Senin (10/1/2022) malam, siaran tunda Youtube. Pementasan yang berjudul Konglomerat Burisrawa itu menceritakan kisah seorang kesatria buruk rupa bernama Burisrawa yang memperjuangkan cintanya kepada Sumbadra.

Sutradara pentas, Raffi Uddin Kholfi menuturkan cerita yang dipentaskan menggunakan naskah dari karya pendiri Teater Koma, N. Riantiarno. Dia memilih naskah tersebut karena membutuhkan banyak orang sebagai perannya. Selain itu tema yang terkandung dipandang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pentas Produksi ke-50 Teater Wejang dengan judul Konglomerat Burisrawa saat pengambilan video, Selasa (21/12/2021) di Hall Gedung C FKIP UMS. (Eduwara.com/Dok. Istimewa Teater Wejang)

 

“Pertama, saya mencoba menghadirkan anggota dari teater Wejang. Kedua, saya memandang cerita ini tidak jauh dengan kehidupan kita. Menurut pandangan saya, Burisrawa itu anak terbuang namun dia bisa menciptakan usahanya sendiri hingga menjadi konglomerat,” kata dia ketika diwawancarai Eduwara.com, Senin (10/1/2022), di Sanggar Teater Wejang FKIP UMS.

Proses Latihan

Terkait dengan proses latihan, Raffi mengatakan latihan dimulai dari Agustus akhir hingga Desember. Pemeran yang bermain dalam pentas itu diambil dari mahasiswa angkatan 2018 hingga 2021. Hal tersebut berkaitan dengan proses regenerasi Teater Wejang.

Dia menambahkan pengambilan video pentas dilakukan pada tanggal 21 Desember 2021 di Hall Gedung C FKIP UMS. Sehari sebelumnya diadakan pementasan dengan judul yang sama dan mengundang kelompok teater se-UMS. Hal itu bertujuan untuk melihat sisi mana saja yang bisa di-cut per adegan saat pengambilan video.

Sementara itu Pimpinan Produksi Pentas, Fajar Abdi Wianata menjelaskan konsep pementasan yang digunakan berganti-ganti. Hal ini terkait dengan kondisi pandemi yang tidak stabil.

Pentas Produksi ke-50 Teater Wejang dengan judul Konglomerat Burisrawa saat pengambilan video, Selasa (21/12/2021) di Hall Gedung C FKIP UMS. (Eduwara.com/Dok. Istimewa Teater Wejang)

 

“Awalnya merencanakan di Teater Arena TBJT, namun dapatnya tanggal 27 Desember. Setelah itu didiskusikan lagi dan dapat tempat di Dalem Djoyokusuman. Namun sempat ada kabar PPKM akhir tahun jadi mencoba pindah di kampus akhirnya diperbolehkan,” jelas dia.

Terkait regenerasi, Fajar merasakan anggota agak susah beradaptasi karena kegiatan teater sempat berhenti satu tahun. Ilmu yang dia dapatkan masih kurang untuk diberikan kepada adik-adik yang lain. Jadi perlu belajar lagi terkait artistik, birokrasi, dan keteateran.

Sementara itu sutradara pentas, Raffi mengatakan pentas produksi itu menjadi ajang belajar dalam teknis pementasan secara online. (K. Setia Widodo)